Pusara Konflik Keraton Kasunanan Surakarta; Tanda Tanya Dana Hibah Mengalir ke Mana

Salah satu sudut bangunan keraton yang rusak- IDN Times

Awal minggu ini, semua mata seakan tertuju ke Keraton Kasunanan Surakarta.

Betapa tidak, konflik perebutan tahta semakin memuncak. Dua kubu yang sama-sama merasa berhak untuk bertahta, saling ribut di tengah kehadiran Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Politisi asal Partai Gerindra itu hadir dalam rangka penyerahan SK Pemeliharaan Keraton Kasunanan.

Lantaran masih ada dua kubu yang bertikai, maka SK tersebut diserahkan kepada KGPH Tedjowulan, selaku Maha Menteri Keraton Kasunanan. Sosok ini dulu juga sempat mengklaim sebagai Raja Kasunanan sebelum berekonsiliasi dengan Pakubuwono XIII.Tedjowulan kini menjadi raja ad interim atau pemegang kuasa tertinggi sementara sebelum adanya raja baru.

Kubu PB XIV Hangabehi menerima Tedjowulan sebagai raja sementara yang memeliki kuasa atas SK dari pemerintah. Namun, kubu PB XIV Purboyo tidak terima. Mereka berupaya sekuat tenaga untuk mengahalau agar penyerahan SK tersebut tidak terjadi. Termasuk, dengan cara mengunci beberapa bagian keraton agar tidak ada kubu sebelah yang tidak masuk.

Alhasil, kericuhan dan cekcok mulut pun terjadi seperti video yang beredar di Tiktok. Masing-masing kubu tidak mau ada yang mengalah. Dengan dasar yang mereka miliki, mereka saling mengklaim berhak berkuasa atas keraton yang status keistimewaannya tidak ada lagi. Sampai-sampai, mereka beradu argumen di depan Fadli Zon, seorang menteri yang seharusnya dihormati.

Saya sendiri tidak begitu memusingkan bagaimana hasil dari geger keraton yang entah sampai kapan berakhirnya. Saya hanya mempertanyakan ke manakah uang hibah dari pemerintah pusat yang diberikan kepada pihak keraton.

Saat berkunjung ke keraton beberapa waktu lalu, saya miris melihat bangunan keraton yang tampak kumuh dan tak terawat. Dindingnya kusam. Banyak kerusakan di berbagai sisi keraton. Hal paling membuat miris adalah adanya tanaman liar yang berada di sekitarnya. Seakan bangunan ini benar-benar terbengkalai.

Bangunan yang terawat bisa jadi hanya bangunan inti di dalamnya. Selebihnya, kondisinya memprihatinkan. Ada rekan saya yang dari Solo bahkan merasa malu dengan kondisi keraton saat ini. Seakan sudah lapuk oleh zaman dan tinggal menunggu akhirnya saja.

Padahal, setelah saya baca dari berbagai sumber, Keraton Surakarta tidak hanya menerima dana hibah dari pusat. Ada dana hibah dari Pemprov Jateng, Pemkot Solo, dan beberapa lembaga lain, seperti dari UAE. Jumlahnya bisa mencapai milyaran rupiah. Lantas, ke manakah dana itu?

Entah, tidak ada yang tahu Tidak ada transparansi dari pihak keraton selama ini. Walau pasti digunakan untuk dana operasional keraton, tapi ya masak sih tidak cukup untuk membenahi keraton. Rasanya kok miris sekali. Apalagi, keraton Kasunanan sering sekali tutup sehingga kebermanfaatannya bagi masyarakat luas untuk wisata seakan dirasa kurang.

Mungkin ada pertanyaan, kenapa warga luar Solo seperti saya mempertanyakan dana hibah ini. Alasannya satu. Dana hibah tersebut berasal dari pajak rakyat termasuk saya. Jadi, uang saya dan Anda juga berkontribusi dalam upaya pemeliharaan Keraton Kasunanan. Kalau uang tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, kok ya jerih payah kita sia-sia.

Meski status keistimewaannya berbeda, saya melihat Keraton Jogja jauh lebih baik dalam mengelola dana yang kini disebut Dana Keistimewaan (DAIS). Mereka menggunakan dana ini cukup bagus. Mulai dari peruntukannya dengan membuat film pendek, revitalisasi beberapa cagar budaya di Jogja, hingga untuk kebutuhan operasional Trans Jogja seperti pengadaan bus listrik.

Yah meski ada beberapa penggunaan yang menuai pro kontra, tetapi bagi saya Keraton Jogja masih bertanggung jawab menggunakan dana yang diberikan dari pusat. Para bangsawan keraton seperti putri dan menantu dari HB X juga kerap membuat acara budaya yang bisa diikuti oleh masyarakat luas.

Dalam hal berbeda, Mangkunegaran sebagai Kadipaten di lingkup Kasunanan Surakarta juga cukup bertanggung jawab dalam mengelola dana hibahnya. Mereka membangun dan menata Puro Mangkunegaran jauh lebih bagus sehingga menarik wisatawan. Walau suksesi kepemimpinan pada 2022 lalu juga sempat diwarnai konflik, tetapi tidak berlarut-larut. Ada pihak yang legowo dan akhirnya bersatu padu membangun Mangkuenagaran lagi.

Nah, pertanyaannya, sampai kapan konflik Kasunanan Surakarta ini bisa berakhir? Kalau tak segera berakhir bisa-bisa dana hibah tak kunjung cair yang malah membuat mereka rugi sendiri.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya