Lika-Liku Uang THR Lebaran Bocil Masa Dulu dan Kini

Ilustrasi

Tunjangan Hari Raya (THR) atau di tempat saya menyebutnya sebagai galak gampil merupakan sebuah pemberian uang kepada anak kecil saat momen Lebaran.

Kegiatan ini sebenarnya bertujuan baik. Memberikan sedikit rezeki kepada anak-anak, terutama saudara dekat dan tetangga. Adanya THR alias galak gampil ini juga menjadi salah satu momen yang paling ditunggu anak-anak ketika lebaran selain membeli baju baru.

Kadang, pemberian THR alias galak gampil ini juga diberikan kepada anak-anak nonmuslim yang ikut juga merayakan lebaran. Yah namanya anak-anak pasti akan senang jika mendapatkan uang. Mereka akan bahagia dan membelanjakan uang mereka untuk berbagai tujuan. Entah buat mainan atau untuk jalan-jalan.

Nah, jika diturut ke belakang, sebenarnya tradisi pemberian THR kepada anak-anak ini sudah terjadi sejak lama. Sejak saya bocil tahun 90an sudah ada. Bahkan, sejak ayah ibu saya kecil pun sudah ada.

Namun, pemberian THR pada zaman dulu tidaklah semarak sekarang. Kegiatan ini bukan suatu kewajiban dan standar yang harus dilakukan oleh orang dewasa. Hanya orang-orang tertentu saja yang tiap lebaran memberikan uang THR. Nominalnya pun tidak banyak dan tidak menggunakan uang pecahan baru.

Dulu, saya masih ingat pertama kali mendapat THR Lebaran dari saudara dekat, rekan karib ayah ibu, dan tetangga dekat rumah. Saya masih ingat mendapatkan THR total sebanyak 40 ribu rupiah. Jumlah tersebut bagi saya terbilang banyak yang masih duduk di bangku kelas 1 SD. Barangkali, sebelum itu, saya sudah mendapatkan THR tetapi uangnya disimpan ibu. Yah kalau sekarang seperti yang katanya investasi bodong.

Saat mendapat uang THR 40 ribu adalah pertama kali saya mengelola uang. Artinya, ibu saya membebaskan saya untuk membelanjakan uang tersebut untuk apa saja. Barangkali, sata itu saya baru mendapatkan adik. Ibu mungkin riweh mengurus adik yang masih bayi sehingga tidak mau repot mengelola uang THR saya. Praktis, uang THR langsung saya belikan mainan mobil-mobilan dan sisanya untuk jajan.

Saya masih ingat, nominal THR yang saya terima berkisar 100 rupiah hingga paling banyak 2.000 rupiah. Tetangga dekat rumah memberi uang saya pecahan 100 warna merah gambar Gunung Krakatau hingga 500 rupiah yang bergambar orang utan. Aduh, meski hanya 100 hingga 500 rupiah rasanya senang sekali. Apalagi, beberapa diantaranya adalah uang baru yang masih wangi. Ada juga lho yang memberi uang koin pecahan 100 rupiah. 

Tidak semua orang dewasa memberi saya THR. Terutama, om dan tante yang masih muda yang baru bekerja. Meski begitu, mereka sering memberi saya chiki, es krim, atau coklat saat lebaran. Terutama, mereka yang bekerja di bidang retail seperti supermarket. Ada om yang selalu memberi saya coklat karena dia bekerja menjadi sales silverqueen. Dia bilang tidak bisa memberi saya uang tapi dia punya coklat banyak. Ada pula tante yang bekerja di sebuah supermarket memberi saya chiki yang berhadiah Tazos. Dia juga tidak memberi saya uang. Walau demikian, rasanya saya senang. Mungkin mereka masih merintis karir di usia 20an dan masih punya banyak kebutuhan.

Era 2000an menjadi era transisi pemberian THR berupa uang seakan menjadi sebuah kewajiban. Apalagi, saat itu kondisi ekonomi Indonesia bisa dikatakan membaik sejak zaman Presiden SBY. Orang seakan mudah untuk mendapatkan uang. Mereka juga punya akses mudah mendapatkan uang pecahan baru saat lebaran.

Alhasil, saat saya SMP hingga kuliah, saya sering mendapatkan THR dari orang terdekat. Tiap tahun, saya bisa mendapatkan THR hampir sejuta rupiah. Uang sebanyak itu bisa saya gunakan untuk keperluan sekolah atau membeli aksesoris HP. Kadang juga saya gunakan untuk nongkrong di Mekdi/KFC dan menonton bioskop. Kapan lagi kan bisa hedon kalau bukan saat setelah mendapat THR?

Walau demikian, orang yang memberi saya THR juga masih terbatas. Semakin besar, jumlahnya semakin sedikit, tapi nominalnya makin banyak. Misal, bude dan tante saya bisa memberi saya 100 ribuan. Bayangkan jika ada 7 orang saja sudah berapa banyak uang yang terkumpul. Sisanya ya dari teman ayah ibu atau tetangga dekat yang masih memberi THR. walau kadang saya malu, tapi ya namanya rezeki masak saya tolak.

Kondisi berbalik saat saya bekerja. Saya harus menyediakan THR kepada anak-anak di sekitar saya. Mulanya, saya berpedoman bahwa yang harus diberi ya hanya keluarga dekat dulu. Terlebih, saat masih menjadi guru honorer, gaji saya tak seberapa. Saya pun hanya memberi THR kepada sepupu muda dan keponakan dengan nominal 20 ribuan. Beberapa tetangga dekat saya beri 5 ribuan. Saya masih ingat, saat pertama bekerja saya hanya menghabiskan 300 ribu rupiah untuk keperluan THR.

Alhamdulillah, setelah tidak menjadi guru honorer dan terjadi peningkatan secara ekonomi, saya bisa memberi lebih anak-anak di sekitar saya. Kini, saya membagi nominal THR menjadi 3 bagian. Pertama, pecahan 50 ribuan untuk keluarga dekat satu kakek dan nenek. Kedua, pecahan 20 ribuan untuk saudara jauh atau yang masih berbau saudara Terakhir, nominal 10 ribuan untuk tetangga dekat rumah saya.

Beruntung, saya sudah menabung di celengan selepas Idul Fitri tahun lalu dengan nominal 10 ribu dan 20 ribuan. Kalau ada uang yang masih bagus, saya langsung masukkan ke celengan. Kadang, saya simpan di bagian dalam dompet dulu jika tidak sempat memasukkan ke celengan. Saat akhir puasa, saya pun membuka celengan tersebut dan terkumpul uang sekitar 600 ribuan. 

Walau masih kurang, saya tidak terlalu banyak mencari pecahan uang. Paling-paling, saya masukkan beberapa uang 10 ribuan yang masih ada. Saya juga melakukan tarik tunai pecahan 20 ribu di ATM. Beruntung juga saya punya rekening BNI yang menyediakan ATM pecahan 20 ribu rupiah. Untuk uang 50 ribuan, anggarannya sudah saya dapatkan dari penghasilan Adsense Youtube. Kalau mencari uang pecahan 50 ribuan kan mepet lebaran tidak masalah.

Walau terlihat memberatkan, saya masih terus menjalankan tradisi pemberian THR ini agar rezeki saya lebih barokah. Saya merasa lebih lancar dalam mencari uang karena berkah dari uang THR yang saya berikan ini. Saya merasa bahagia melihat anak-anak mendapat uang THR dari saya. Tak hanya itu, saya juga bisa membalas budi kepada om dan tante yang dulu memberi saya coklat, es krim, atau chiki. Walau mereka tidak memberi saya uang, tetapi usaha untuk memberi saya saat itu juga layak dihargai dengan memberi anak-anak mereka uang THR meski nominalnya tidak banyak.

Intinya, saya tidak ngoyo dalam memberikan THR tapi juga tidak pelit. Saya juga tidak mau memberi uang THR dengan uang baru. Entah menukar di bank atau di rentenir. Buat apa ngoyo mencari uang baru toh nantinya dibelanjakan. Asal masih bagus dan layak edar bagi saya tak masalah. Makanya, setiap lebaran berkahir, saya pun kembali menabung untuk lebaran berikutnya. 



Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya