| Buku Traveling |
Sebelum covid-19, saya memiliki sebuah rak buku yang ada di kamar rumah saya.
Rak buku ini sudah saya miliki sejak saya bekerja di sebuah sekolah dasar di Kota Malang. Saat itu, saya memang memiliki sebuah kegiatan bertajuk satu bulan satu buku. Setiap awal bulan dan saya menerima gajian, saya sisihkan pendapatan saya antara 50 ribu hingga 100 ribu rupiah untuk membeli sebuah buku.
Kegiatan ini rutin saya lakukan selama hampir 4 tahun saya bekerja di sana. Jadi, selama 4 tahun, ada sekitar 50an buku berbagai genre yang saya beli. Biasanya sih, saya membeli buku di Toko Buku seperti Gramedia atau Togamas.
Buku-buku tersebut selalu langsung saya sampul rapi dan saya pajang di rak saya sesuai genre buku tersebut. Ada buku fiksi, buku sejarah, buku politik, dan yang paling banyak adalah buku traveling.
Untuk buku traveling sendiri, saya sangat suka untuk membacanya. Apalagi buku karangan Mbak Trinity hampir langsung saya beli saat baru launching. Bahkan, saya sempat melakukan PO dan mendapatkan tanda tangan langsung dari Mbak Trinity.
Saat pindah ke Jogja, saya masih sempat meneruskan membeli buku. Setiap bulan, saya juga masih membeli buku di Togamas dan Gramedia yang berada di kawasan Kotabaru. Setelah saya baca, buku tersebut saya bawa pulang ke Malang jika sedang mudik. Lumayan sih, buku-buku di rak saya juga makin banyak.
| Buku sejarah dan politik |
Kadang, saat saya bersua dengan rekan Kompasianer yang menulis buku, saya pun juga sering diberi buku oleh mereka. Pernah suatu ketika, saya mendapatkan hampir 20an buku dari Mbak Desol, salah seorang kompasianer penulis fiksi yang ngehits. Alhasil, koleksi buku fiksi saya semakin banyak.
| Buku agama, filsafat, dan kehidupan |
Kalau ada event fiksi yang diikuti oleh Kompasianer dan hasilnya berupa sebuah buku cetak, saya pun juga membelinya. Selain sebagai bentuk dukungan dan apresiasi pada mereka, saya juga ingin menjadikan buku tersebut sebagai kenang-kenangan. Apalagi, saat ini Kompasiana dan komunitas di dalamnya jarang sekali mengadakan event menulis dan membuat buku seperti dahulu kala.
| Buku fiksi |
Namun, pandemi covid-19 membuat buku di rak saya tak lagi terisi banyak. Saat pandemi melanda, saya lebih suka membaca buku lewat aplikasi online seperti iPusnas. Di Surabaya, saya jarang sekali membeli buku. Entah, apa karena kebutuhan hidup yang tinggi atau memang karena saya lebih suka membaca di ipusnas, akhirnya rak saya terbengkalai. Belum lagi, saya jarang di rumah yang membuat rak buku saya semakin menyedihkan.
Mungkin, jika rumah saya yang baru nanti terbangun, saya akan mengisi rak-rak buku saya dengan buku yang baru. Untuk saat ini, saya lebih memilih membaca buku online dulu.