![]() |
| Ilustrasi |
Sudah sering saya katakan, saat memasuki usia 30an, fokus kehidupan saya berubah.
Saya lebih berfokus pada kualitas diri dan hubungan keluarga dibandingkan dengan hubungan pertemanan. Menjelang usia 30an, saya sudah tidak lagi menjalin hubungan pertemanan dengan rekan lama, baik sekolah atau kuliah. Alasan utama saya hanya satu. Saya tidak punya banyak waktu untuk bertemu.Tak hanya itu, saya juga lebih menghabiskan waktu dengan pekerjaan saya yang tidak bisa saya tinggalkan.
Saya juga tidak gampang membuka diri dengan circle pertemanan yang baru. Walau ada anggapan bahwa banyak teman banyak kesempatan, tapi di era yang serba maju ini saya tetap waspada. Tidak semua orang bisa dijadikan teman. Tidak semua orang bisa menjaga rahasia dan kepercayaan kita. Untuk itulah, saya memiliki tiga kriteria untuk masuk ke circle sebuah pertemanan.
Pertama, mengutamakan keluarga
Sebagaimana saya katakan sebelumnya, bahwa saya kini lebih mengutamakan keluarga dibandingkan dengan teman. Makanya, saya lebih memilih circle yang lebih mengutamakan keluarga. Bukan orang-orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi.
Alasan ini saya gunakan karena dalam berteman, saya juga harus menyertakan keluarga dalam setiap pertemanan saya. Artinya keluarga saya tahu saya berteman dengan siapa. Pun anggota circle yang saya ikuti juga tahu keluarga.
Alasan ini juga menjadi patokan utama karena saat ini banyak sekali fitnah rumah tangga dalam setiap circle pertemanan. Ada si A yang selingkuh dengan temannya B di sebuah circle dan kasus lainnya. Jangan sampai circle pertemanan yang saya ikuti menjadi ladang fitnah kejam yang malah merusak hubungan keluarga.
Jika alasan ini digunakan, maka setiap circle yang saya ikuti akan tahu batasan pergaulan yang dilakukan. Bagaimana harus bercanda, kapan waktunya pulang, kapan bisa ketemu, dan apakah bisa anggota keluarga diajak saat bertemu.
Kedua, bertujuan untuk mengembangkan diri
Sudah capai rasanya nongkrong-nongkrong tidak jelas sampai larut malam. Sudah bukan eranya lagi duduk bergosip ngobrol sana-sini tanpa arahan jelas. Yah kalau ngobrol ringan masih okelah tapi kalau tidak ada tujuannya, rasanya di usia yang makin menua rasanya saya malas.
Makanya, saya memilih untuk masuk ke circle pertemanan yang juga punya arahan jelas. Circle pertemanan blogger misalnya. Jadi, waktu saya tidak terbuang sia-sia sehingga ada manfaat dari bertemu dengan circle yang saya ikuti.
Akan lebih baik lagi, jika circle yang saya ikuti ada kebermanfaatan secara ekonomi. Semisal, circle pertemanan yang berisi para pengusaha kecil di bidang tertentu. Saya sih beberapa kali ikut circle UMKM yang dibina oleh suatu badan. Kebetulan, rekan saya kerja mengenalkan saya pada mereka dan kini saya ikut acara sharing usaha kecil-kecilan seperti membuat kue kering atau budidaya ikan.
Ketiga, tidak berisi orang-orang NPD
Jujur, saya tidak terlalu suka circle yang berisi orang-orang NPD. Walau label orang-orang NPD haru dilakukan secara profesional, tetapi orang dengan gejala NPD sangat saya hindari. Orang-orang yang manipulatif untuk kepentingan pribadinya sangat mengganggu kehidupan.
Energi negatif saya langsung keluar jika berhadapan dengan orang-orang semacam itu. Makanya, saya sangat menghindari orang-orang dengan gejala NPD dalam sebuah circle pertemanan. Salah satu tanda yang saya gunakan adalah banyaknya orang yang too much of him/herself dalam setiap pembicaraan.
Itulah beberapa kriteria cicle pertemanan yang akan saya masuki pada era usia 30an ini. Semua memang tergantung pribadi masing-masing. Asal membawa manfaat, kenapa tidak masuk ke circle pertemanan.
