![]() |
| Ilustrasi. - Dok. Istimewa |
Tulisan ini tidak akan membahas film kontroversial yang tayang pada era 2.000an.
Namun, saya menggunakan judul ini karena beberapa hari terakhir saya bersinggungan dengan siswa bimbel kelas 9 SMP dan 12 SMA yang akan menyelesaikan pendidikan pada tingkat satuannya. Entah mengapa, melihat aktivitas mereka, saya jadi bernostalgia tentang masa-masa akhir dari sebuah tingkatan, entah SD, SMP, SMA, atau kuliah.
Saya merasa kegiatan saat akhir tahun di kelas akhir benar-benar berkesan. Berbeda dengan tingkat di bawahnya yang ya begitu-begitu saja, kegiatan di kelas akhir memberikan memori lebih tentang sebuah peristiwa, teman, guru, dan kejadian di sekitar saya.
Sekolah Dasar
Kita mulai dari saat saya masih kelas 6 SD. Tidak banyak hal yang saya ingat selain saya ikut bimbel sore hari setiap Senin-Kamis. Rumah saya yang jauh dari sekolah membuat saya harus menunggu di sekolah dari pulang sekolah sampai bimbel dimulai.
Memori saya benar-benar blank jika mengingat masa ini selain saya dikhitan beberapa minggu sebelum UPM (ujian akhir SD). Bayangkan, saya harus khitan dan beberapa hari setelahnya saya ikut try out. Tentu, hasilnya kurang memuaskan.
Walau begitu, saya mah nothing to loose. Saat teman-teman saya yang lain stress ingin dapat nilai UPM tinggi agar bisa masuk SMP Negeri pilihan, saya malah enjoy aja. Alasannya simpel, saya tidak mau beban saya terlalu tinggi dan malah berpengaruh pada hasilnya. Lah ndilalah, saat hasil ujian keluar, nilai saya merupakan tertinggi di sekolah. Saya dapat uang 100 ribu rupiah kalau tak salah pada saat itu yang bagi saya sangat tinggi dan bisa masuk SMP favorit pilihan saya. Alhamdulillah.
Sekolah Menengah Pertama
Saat kelas 9 alias kelas 3, saya masih tergolong siswa yang bandel. Berkali-kali bolos bimbel di sekolah dan kadang usil kepada siswa perempuan atau adik kelas perempuan. Yah namanya bertemu teman satu geng sefrekuensi.
Sama dengan saat SD, saya masih nothing to loose. Belajar ya belajar saja. Beberapa kali tryout lumayan beberapa kali pula anjlok wijaya. Oh ya, di akhir penutup masa SMP ini saya juga diputuskan oleh pacar saya yang sejak awal kelas 3 sudah saya pacari hahahahaha.
Satu event yang saya ingat adalah saya sempat menyebarkan virus di komputer sekolah. Bermula dari tugas bahasa Indonesia membuat tulisan ilmiah sederhana, saya memiliki disket murahan yang sering saya gunakan untuk menyimpan file ketikan di rental dan warnet.
Pada suatu hari, saya mendapat kesempatan untuk memakai komputer di sekolah karena pulang pagi dan guru TIK saya mengizinkan siswa menggunakannya. Tanpa banyak kata, saya pun memasukkan disket tersebut ke komputer dan tugas saya selesai. Malamnya, saya sempat ke rental dan disket saya sempat tidak bisa dibuka. Untungnya, beberapa saat kemudian disket itu bisa terbuka dan tugas saya pun saya cetak untuk saya jilid.
Lah besoknya di sekolah geger karena komputer di ruang komputer terkena virus semua. Data-data banyak yang hilang. Waduh, apa gara-gara disket saya ya. Namun saya diam saja sok tidak merasa bersalah. Lagian, saat itu banyak juga siswa yang menggunakan disket dan flash disk. Akhirnya, guru TIK saya mewajibkan siswa yang mau memasukkan disket atau flash disk agar discan antivirus terlebih dahulu.
Seperti di SD, entah mengapa ke-nothing to loose-an saya juga membawa berkah. Saya bisa mendapat nilai NUN dengan rata-rata di atas 9. Padahal saya tidak ikut bimbel dan masih kelayapan sampai maghrib gara-gara ikut teman saya buntutin adek kelas yang cantik hahahaha.
Lumayan, karena nilai matematika saya 100, saya dapat uang 50 ribu yang saat itu saya gunakan langsung untuk makan steak karena penasaran belum pernah mencoba. Dan lagi-lagi, saya bisa masuk SMA Negeri Favorit bersama sekitar 70 orang dari SMP saya. Alias, ya cuma pindah tempat sekolah saja.
Sekolah Menengah Atas
Berbeda dengan saat SD dan SMP. tekanan dan stres di akhir tahun terakhir SMA sungguh mengerikan. Pertama, saya mendapat tugas bahasa Inggris yang rumit membuat paper yang isinya sangat kompleks. Ada yang mencari ide pokok teks dan menganalisis strukturnya, membuat kalimat, dan sederet tugas lain. Tugas itu nanti dipresentasikan ke depan guru saya yang killernya naudzubillah.
Walau saya sudah punya komputer dan tidak akan menyebarkan virus lagi, tetap saja saya stres luar biasa. Untungnya, saya punya teman super cerdas yang kini tinggal di luar negeri =. Ia bersedia membantu saya sampai tugas saya selesai. Yes.
Ada juga sederet ujian praktik yang menguras banyak waktu, tenaga, dan biaya. Sampai-sampai sayang bingung mau belajar dan mengerjakan yang mana dulu. Yang paling gong sih membuat senam sendiri dan mempraktikannya di tengah lapangan. Setiap hari rasanya saya harus latihan senam dan membuat gerakannya sendiri.
Jujur, saya keteteran belajar UN. Bagi saya yang penting lulus karena nilai UN tidak digunakan untuk kuliah. Saya sudah daftar PMDK (sekarang SNPB) di UM dan cukup yakin untuk lolos. Makanya saya mah tinggal mengamankan kelulusan saja.
Lah ndilalah saat UN ujian matematika susahnya naudzubillah. Teman-teman saya yang wanita banyak yang menangis karena takut lulus. Saya sih masih PD karena saya hitung jumlah soal yang benar-benar yakin tepat antara 60-70 persen. Nilai kelulusan saat itu adalah 5,5. Agak ngepas ya wak.
Saya sudah keterima di UM saat nilai UN belum keluar. Benar saja, nilai matematika saya 6,75 meski nilai yang lain di atas 9 dan 8. Puji Tuhan karena saat itu banyak siswa yang tidak lulus. Sampai sekarang saya merasa akhir tahun SMA ini benar-benar memorable.
Sebenarnya saya mau menulis catatan akhir di kuliah, tetapi karena panjang akan saya tulis pada tulisan selanjutnya ya…
