Belajar Membuat Diktat Belajar; Bukan Sekadar Mempermudah Para Pelajar

Ilustrasi by AI

Tahun ini, saya mendapatkan tugas dari tempat kerja untuk membuat diktat belajar.

Sebenarnya, sudah ada tim sendiri yang mengerjakan tugas tersebut. Namun, beberapa anggota tim tidak bisa melakukan pekerjaan ini karena cuti hamil dan menikah. Walau saya menggantikan sementara tugas tersebut, saya pun tetap harus melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

Malangnya, untuk mengerjakan tugas ini, tidak ada pelatihan khusus yang saya dapatkan. Alhasil, saya pun harus berguru kepada rekan yang sudah terbiasa mengerjakan tugas ini dan belajar secara otodidak. Namanya juga tugas dadakan, pasti waktu yang mepet adalah salah satu kendalanya.

Walau demikian, saya langsung gerak cepat. Saya membaca banyak belajar mengenai pembuatan diktat belajar, rangkuman materi, dan segala tetek bengeknya dari internet, terutama dari video pembelajaran.

Salah satunya adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pekerjaan ini. Saya tahu sih, saat ini memang semuanya serba AI. Dikit-dikit AI, begitu bunyinya. Saya juga paham, penggunaan AI yang berlebihan juga tidak baik dan menyebabkan ketidakcocokan antara materi yang akan disampaikan oleh tutor dengan materi yang semestinya.

Nah, di sinilah peran penyusun diktat agar bisa memadupadankan materi yang diberikan dengan materi yang semestinya dipelajari oleh siswa. Lantas, apa peran AI?

Ternyata, saya banyak belajar bahwa AI memudahkan para pekerja seperti saya untuk memulai poin-poin penting materi mana yang harus saya susun dahulu. Biasanya kan, saya fokus mencari buku paket atau buku pelajaran untuk menyusun ringkasan materi. Semisal, antara materi A, B, dan C, mana yang harus dipelajari dahulu.

Kalau saya mengerjakan secara manual, saya akan membutuhkan waktu lama untuk menyusun rangkaian materi tersebut. Belum apa-apa, sudah ada deadline yang harus saya penuhi. Akhirnya, saya harus melembur malam hari demi menyelesaikan tugas tersebut/

Dari banyak video dan sumber yang saya pelajari, ternyata sekarang ada aplikasi bernama AI Summarizer. Aplikasi ini bisa membantu kita mengurutkan poin-poin materi apa saja yang akan disusun dalam sebuah diktat belajar. Poin-poin ini banyak yang sudah sesuai dengan apa yang disampaikan dalam pembelajaran di sekolah. Saya tinggal mengisi poin-poin tersebut dengan rangkuman yang saya buat bersumber dari buku pelajaran atau sumber relevan lainnya.

Tak sekadar diktat belajar, saya juga banyak belajar secara otodidak pembuatan peta pikiran (mind map) untuk menunjang pembelajaran. Satu per satu berbagai aplikasi saya coba dan saya pilih mana yang terbaik. Saya berpatokan tampilan yang didapat menarik, tetapi tidak menyulitkan para siswa yang menggunakannya.

Dari berbagai aplikasi yang saya coba-coba, saya tertarik menggunakan coogle karena tampilannya menarik. Tak hanya itu, pengguna aplikasi ini bisa sharing mengisi poin-poin dalam peta pikiran yang sudah dibuat.

Contih diagram coogle. - dok istimewa

Jadi, saya bisa membuat kerangka sederhana peta pikiran suatu materi pembelajaran dulu. Kerangka ini kemudian saya bagi kepada tutor dan para siswa yang akan mengikuti sebuah kelas. Saat proses pembelajaran, antara tutor dan siswa bisa saling berdiskusi mengisi peta pikiran yang sudah saya buat. 

Bagi saya pembelajaran seperti ini juga lebih efektif karena siswa bisa lebih ingat poin-poin apa saja yang mereka pelajari. Mereka tinggal menambah sendiri poin-poin tersebut di rumah saat belajar sendiri. Model pembelajaran seperti ini juga saya dapatkan secara otodidak dari berbagai sumber.

Sebenarnya, saya masih ingin belajar pembuatan animasi untuk pembelajaran. Dulu saya sempat belajar Macromedia Flash. Sayang, saya tidak sempat menyelesaikan pembelajaran ini samoa tuntas. Padahal, media ini sangat penting agar lebih banyak materi pembelajaran yang bisa tersampaikan dengan baik tanpa harus menghafal dengan buku teks yang membuat siswa jenuh.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya