![]() |
| Ilustrasi |
Beberapa waktu terakhir, lini masa media sosial saya dan siswa bimbel saya sedang ramai membicarakan soal SNBP.
SNBP yang merupakan kepanjangan dari Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi adalah sebuah proses penerimaan mahasiswa baru di PTN tanpa tes. Kalau zaman dulu namanya PMDK dan pernah berganti nama menjadi SNMPTN. Entah apapun namanya, yang jelas mahasiswa yang lolos jalur ini sangatlah senang.
Bagaimana tidak, mereka tidak perlu lagi belajar mengikuti tes yang kini bernama SNBT. Mereka tinggal fokus mencari keperluan untuk menjadi mahasiswa, seperti kos bagi yang tinggal di luar kota. Orang tua mereka pun “tinggal” memikirkan biaya masuk dan pastinya UKT yang kini makin tak masuk akal di kantong.
Nah, berbicara euforia masuk PTN ini, saya jadi teringat masa-masa indah saat bisa masuk di sebuah PTN di kota saya. Saat itu, saya masuk lewat jalur PMDK atau kepanjangan dari Penelusuran Minat dan Kemampuan. Sama dengan siswa yang diterima lewat SNBP, masuk lewat PMDK juga senang dan bangganya luar biasa.
Dulu, penerimaan lewat PMDK ini formatnya tidak sama dengan SNBP. tiap perguruan tinggi punya kriteria masing-masing. Mereka juga punya standar tertentu yang tidak berlaku secara nasional. Artinya, tidak ada namanya siswa eligible. Asal memenuhi kriteria, maka siswa kelas XII bisa mendaftar.
Saat itu, saya sebenarnya punya keinginan berkuliah di ITS. Saya sangat terkesima dengan banyak lulusan ITS seperti Bus Risma dan beberapa tokoh lain yang punya critical thinking yang bagus dalam memecahkan masalah. Kampus ini juga sering jadi jujugan siswa di sekolah saya.
Namun, orang tua saya keberatan kalau saya berkuliah di luar kota dengan berbagai pertimbangan. Walau kecewa, saya pun bisa menerima karena saat itu saya tidak bisa naik motor. Saya pun membayangkan bagaimana susahnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain di Surabaya yang transportasinya saat itu jauh dari kata layak. Belum lagi panasnya luar biasa.
Saya pun membayangkan hidup di kos-kosan yang panasnya naudzubillah. Bukannya semangat kuliah, nanti malah stres. Mereka pun berkata nanti saja kalau saya bekerja bisa di Surabaya tidak apa-apa dan akhirnya kejadian sekarang.
Saya pun akhirnya sempat galau memilih UB atau UM. Dua kampus negeri di kota saya. Saya sudah mencoret UIN meski jurusan yang saya inginkan ada di sana karena ada kewajiban setahun masuk ma’had alias pondok. Setelah berbagai pertimbangan akhirnya saya memilih UM dengan alasan biaya yang lebih terjangkau.
UM sendiri punya standar yang tidak terlalu tinggi dalam menjaring siswa melalui PMDK. Setahu saya, minimal masuk peringkat ½ dari total jumlah siswa. Semisal, jika siswa satu kelasnya 40 orang, maka minimal berada di peringkat 20. Tidak ada kriteria lain paling hanya minimal nilai rapor 8. Beda sekali dengan UB yang masih mensyaratkan beberapa hal di bidang akademik yang menurut saya cukup berat. Ada lah kemungkinan bisa masuk UM pikir saya waktu itu.
Lucunya, untuk mendaftar PMDK, siswa harus mendaftar dulu di BK dan membayar uang pendaftaran. Kalau tak salah saat itu jumlahnya 150 ribu rupiah. Setelah waktu tertentu, maka guru BK pun mengumpulkan siswa yang mendaftar di sebuah kelas.
Mereka pun membagikan formulir pendaftaran yang berupa isian seperti LJK. Saya sempat shock karena saya kira ya isian manual bisa atau dimasukkan dalam kolom excel. Jadi, kami pun mengisi formulir dengan pensil 2B persis seperti ujian.
Banyak sekali kolom yang harus diisi mulai identitas, nilai rapor, hingga prestasi akademik. Saya dengan PDnya memasukkan beberapa piagam perlombaan PMR yang pernah saya dapat. Ada dua semester yang alhamdulillah saya berada di peringkat 3 kelas. Saya masukkan semua di samping beberapa sertifikat peserta olimpiade MIPA yang saya ikuti meski tidak menang karena saya ingin mendaftar di jurusan Kimia. Siapa tahu bisa jadi pertimbangan kan?
Setelah pendaftaran selesai, maka saya tinggal menunggu pengumuman. Kalau tak salah jeda pengumuman sebulan setelah pengisian formulir tadi. Saat pendaftaran, saya sudah selesai UN dan tidak melakukan apa-apa di sekolah. Namun, saya masih belajar untuk SNMPTN (jalur tes) sebagai jaga-jaga kalau tidak lulus.
Anehnya, saya justru tidak semangat belajar. Entah karena sudah malas atau apa, saya sempat berpikir kalau tidak lolos PMDK, maka saya akan mencoba SNMPTN tahun depannya alias gap year. Energi saya seakan terkuras habis untuk persiapan UN dan ujian praktik.
Waktu pengumuman pun tiba. Saya melihat pengumuman di sebuah warnet. Pengumumannya pun masih berupa pdf yang didownload dari situs resmi UM. Dan saat melihatnya, alhamdulillah nama saya bersama 2 rekan saya satu sekolah. Jadi, ada 3 siswa saya yang diterima di prodi Kimia dan 2 siswa di prodi pendidikan Kimia. Kalau ditotal, ada sekitar 60-70an siswa yang diterima di UM.
Senang, pasti dong. Lalu saya bilang ibu saya kalau saya keterima. Ibu saya bilang alhamdulillah dan sudah siap dengan uang masuknya. Ya sudah saya pun tinggal menyiapkan mental untuk kelulusan UN. Alhamdulillah UN juga lulus karena saat itu banyak siswa yang diterima lewat PMDK tapi tidak lulus UN. Mereka pun otomatis dinyatakan gugur dalam PMDK. Kasihan kan?
Malangnya, adik saya bernasib kurang baik saat penerimaan PTN. Dia gagal di PMDK, SNMPTN, dan bahkan jalur Mandiri di UM. Saya dan ibu saya heran padahal adik saya secara akademik tidak jauh beda dengan saya. Untungnya, dia langsung mendaftar di PTS terbaik di Malang karena tidak mau gap year. Setelah lulus pun dia juga langsung dapat kerja.
Dari sini saya sadar bahwa penerimaan seperti ini selain bergantung pada prestasi juga pada keberuntungan. Kalau belum rezeki ya bagaimana lagi. Makanya, saya senang dengan orang tua dan guru plus KS yang tetap memberikan semangat bagi siswa yang tidak lulus SNBP. Toh masih ada jalur lain dan lolos SNBP juga bukan jaminan langsung sukses. Ada banyak proses panjang yang menanti dan itu juga butuh perjuangan. Makanya, saat saya lolos PMDK. saya tidak mau euforia terlalu tinggi. Saya masih menghargai teman-teman yang berjuang lewat jalur tes.
