Titik Nadir Seorang WNI Adalah….

Ilustrasi

Akhir-akhir ini, rasanya jadi WNI tidak ada harga dirinya.

Betapa tidak, nilai tukar rupiah anjlok parah terhadap dolar dan beberapa mata uang lain. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun drastis dan menempati posisi terendah dalam beberapa waktu terakhir. PHK besar-besaran dan berbagai ketimpangan sosial seakan mudah sekali kita saksikan setiap hari.

Semuanya terasa sesak ketika pemimpin kita mengatakan bahwa penurunan nilai rupiah tak akan berdampak terutama bagi orang desa. Ia mengatakan bahwa orang desa tidak menggunakan dolar untuk melakukan transaksi keuangan. Orang desa yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia tidak perlu risau dengan penurunan nilai rupiah.

Nyatanya, penurunan nilai rupiah langsung dibayar kontan dengan kenaikan berbagai macam komoditas. Salah satunya adalah oli motor yang juga digunakan oleh warga desa. Harga tempe dan tahu yang menggunakan kedelai impor sebagai bahan bakunya juga naik. Suka atau tidak, impor kedelai juga menggunakan dolar. Secara tidak langsung, penurunan nilai tukar rupiah juga berdampak kepada sulitnya warga desa dalam memenuhi kebutuhan.

Penurunan nilai rupiah juga berdampak pada kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 5,25%. Kenaikan ini tidak hanya sekadar angka. Kenaikan suku bunga berdampak langsung terhadap kenaikan bunga cicilan. Mulai dari KPR rumah, kendaraan, dan sebagainya.

Tidak hanya warga kota, warga desa juga berdampak pada kenaikan ini. Terutama, mereka yang sedang melakukan cicilan kendaraan bermotor untuk aktivitas sehari-hari. Dari yang bisanya sejuta per bulan, mungkin akan naik beberapa ratus ribu. Kenaikan ini juga sangat berdampak pada kehidupan mereka. Artinya, penurunan nilai dolar juga berdampak bagi kehidupan warga desa.

Warga desa juga banyak yang meminjam uang di bank untuk berbagai kebutuhan seperti modal usaha. Dengan kenaikan suku bunga ini, maka bunga pinjaman yang harus mereka cicil juga akan naik. Tak hanya itu, kenaikan suku bunga ini juga berdampak pada tekanan pasar saham. Banyak pemodal yang menarik modalnya sehingga banyak pabrik yang tutup. PHK pun terjadi dan banyak warga desa yang bekerja di pabrik pun terkena imbas.

Saya sudah memprediksi daya rusak pemimpin kali ini amat sangat luar biasa. Sepertinya kok mereka mengendalikan negara ini tidak berdasar pada kepakaran. Pokoknya begini pokoknya begitu. Mereka lupa bahwa sekarang ini kehidupan di suatu negara dipengaruhi oleh kehidupan di negara lain dan kondisi global.

Mereka seakan meremehkan, tidak melakukan kebijakan berdasarkan prinsip yang benar, dan yang paling parah adalah anti kritik. Saat ada yang mengkritik langsung dipersekusi. Entah diancam atau disiram dengan air keras.

Dari segala kekacauan yang terjadi, baru kali ini rasanya saya berada di titik nadir sebagai seorang WNI. Mau apa-apa serba sulit. Mau protes dihantam buzzer. Mau kabur keluar negeri ya mau ke mana. Susah kan?

Makanya, rasanya tiap hari ada saja berita orang yang mengakhiri hidupnya. Di Jembatan Cangar, di dekat kota saya, upaya untuk ini seringkali terjadi. Terakhir, sebulan ada dua orang pria yang melakukan hal tersebut.

Namun, titik paling rendah serendah-rendahnya adalah saat Presiden Indonesia dijadikan ajang taruhan dalam sebuah web berbasis kripto bernama Polymarket. Mulanya saya kira hoaks ternyata benar adanya. 

Jadi situs tersebut membuat prediksi kapan Presiden Indonesia saat ini mundur dari jabatannya. Nantinya peserta taruhan akan membeli vote “yes” atau “no”. Jika benar sesuai prediksi, maka yang membeli vote “yes” akan mendapatkan uang dan sebaliknya jika tidak terjadi, maka yang membeli vote “no” yang akan mendapat uang.

Aturan mainnya, ada 3 pilihan tanggal kejatuhan Presiden RI saat ini, yakni 31 Mei, 30 Juni, dan 31 Desember. Sumber keputusan resminya ada di tangan info resmi pemerintah RI dan media yang kredibel. Pilihannya pun bisa beragam bisa resign, ditahan, dicopot (oleh MPR), dan dihalangi jalan tugasnya. 

Tampilan hasil pertaruhan di situs kripto



Hingga tulisan ini ditulis, ada beberapa orang yang sudah bertaruh di situs tersebut. Mayoritas memilih kejatuhan Presiden RI saat ini akan terjadi tanggal 31 Desember 2026. Namun, ada pula yang memilih bahwa kejatuhannya terjadi pada tanggal lain.

Sungguh, ini adalah titik paling rendah dan tak ada harga dirinya sebagai WNI. Kok bisa-bisanya kejatuhan presiden dijadikan bandar taruhan. Mungkin karena sudah masifnya kerusakan yang terjadi dan tak ada harapan lagi, taruhan itu akhirnya muncul.

Di sisi lain, apa yang terjadi saat ini adalah buah awal yang jelek dari sebelumnya. Utak-atik konstitusi, yang dianggap lumrah oleh pendukungnya akan berdampak pada perjalanan buruk pemerintahan. Lantas, saya heran, ke mana pendukungnya yang oke gas saat ini?

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya