![]() |
| Salah seorang pemain Italia menutup muka saat timnya dikalahkan Bosnia-Herzegovina pada play off kualifikasi Piala Dunia 2026. - Sumber: Istimewa |
Gelaran Piala Dunia 2026 yang diadakan di tiga negara; Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada sedang memasuki fase penyisihan grup.
Masing-masing tim berusaha menampilkan performa terbaiknya agar bisa lolos ke babak selanjutnya. Namun, jika berbicara Piala Dunia 2026 kali ini rasanya kok ada yang kurang. Ada satu tim yang tidak ikut pada piala dunia edisi kali ini. Bukan Indonesia tentunya melainkan tim Azzuri, Italia.
Ya, Italia tidak lolos ke Piala Dunia 2026 ini. Negara yang sudah memenangkan 4 gelar event ini ternyata sudah tiga kali berturut-turut absen di Piala Duni sejak 2018. Artinya, mereka terakhir lolos ke Piala Dunia pada 2014 yang diselenggarakan di Brazil. Jika dihitung, sudah 12 tahun kita tidak menyaksikan tim kebanggan Eropa ini tidak ada di Piala Dunia.
Sebagai orang awam yang paham mengenai sepak bola sedikit, saya hanya mengerti bahwa tim-tim unggulan hampir selalu lolos ke Piala Dunia. Sebut saja Prancis, Jerman, Brazil, Argentina, Spanyol, Portugal, dan Inggris. Ada beberapa tim unggulan yang pernah absen di Piala Dunia seperti Belanda dan Belgia. Namun, mereka hanya absen sekali dan pada edisi berikutnya mereka bisa lolos kembali.
Namun, untuk Italia yang gagal lolos tiga kali berturut-turut rasanya timbul pertanyaan besar. Kok bisa-bisa mereka bisa sama nasibnya dengan Indonesia. Kalau Indonesia sih saya amat maklum sekali. Lah ini Italia.
Setelah saya melihat beberapa video, ternyata memang Italia pantas tidak lolos dan kini bukan lagi tim yang dianggap selevel dengan tim papan atas dunia. Apa saja itu?
Pertama, kemunduran liga Serie A
Dulu, liga Serie A Italia merupakan salah satu liga terbaik di dunia. Tidak hanya terbaik, melainkan liga dengan persaingan paling ketat. Banyak pemain dunia papan atas bermain di sana. Ada 7 hingga 8 tim yang bersaing di papan atas. Mereka juga merajai Liga Champions Eropa. Sebut saja Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, Lazio, dan Fiorentina.
Namun, skandal calciopoli menghancurkan segalanya. Skandal pengaturan skor dan wasit yang melibatkan beberapa tim besar seperti Juventus, Lazio, dan AC Milan ini menyebabkan banyak pemain hebat dunia eksodus keluar dari Italia. Mereka memilih bermain di liga lain seperti Inggris, Spanyol, Prancis, dan Jerman.
![]() |
| Skandal Calciopoli diolah dari berbagai sumber |
Alhasil, persaingan dan kualitas Serie A tidak sekompetitif dulu. Tim-tim Serie A juga jarang berbicara banyak di Liga Champions. Liga tertinggi Eropa ini bukan lagi level yang bisa disejajarkan dengan tim Serie A. Terlebih, beberapa tim Serie A mengalami krisis keuangan sehingga tidak bisa berbelanja pemain seperti tim di luar Italia.
Kedua, kurangnya kesempatan pada pemain muda
Serie A Italia ternyata diisi oleh banyak pemain tua alias pemain berusia 30an.Tim-tim papan atas Seri A jarang sekali memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk berlaga. Bandingkan dengan tim di luar Italia yang kerap memberikan waktu bermain pada mereka.| Perbandingan persentase menit bermain pemain muda beberapa tim eropa. Sumber: istimewa |
Akibat dari hal ini, maka pemain muda Italia kesulitan untuk bersaing dengan pemain muda dari negara besar. Italia akhirnya kesulitan meregenerasi pemain hampir semua lini, mulai striker hingga pemain belakang dan kiper. Bandingkan dengan Prancis, Jerman, atau Spanyol yang pemain mudanya di semua lini bisa dibilang ngueri.
Ketiga, terlalu nyaman dengan nama besar
Sejak menjadi juara Piala Dunia 2006, Italia seolah tak berubah. Mereka tetap mengandalkan nama-nama besar yang mengantarkan mereka menjadi juara. Mereka banyak yang kembali bermain di Piala Dunia 2010. Alhasil, mereka langsung terkapar tak berdaya di babak penyisihan grup yang sebenarnya diisi tim tidak terlalu kuat.
Sebenarnya, setelah kegagalan itu, ada seorang kepala sektor teknis bernama Roberto Baggio yang punya ide cemerlang. Mantan pemain Italia yang gagal mengeksekusi penalti saat tim ini berhadapan dengan Brazil pada final Piala Dunia 1994 tersebut menulis laporan setebal 900 halaman pada 2011. Laporan ini berisi rencana teknis reformasi sepak bola Italia.
Isi laporan tersebut adalah rencana pembangunan 100 pusat pelatihan di 100 distrik berbeda yang tersebar di seluruh Italia. Masing-masing pusat pelatihan, akan diisi oleh 3 tim dari FIGC (PSSI-nya Italia). Targetnya, semua pelatihan tersebut akan menghasilkan sekitar 50.000 buah pertandingan bagi pemain muda Italia yang sedang melakukan training camp.
Tak hanya itu, Roberto Baggio juga ingin mengubah sistem pendidikan. Selama ini, Italia hanya berfokus dalam taktik. Mereka tidak bisa mengembangkan skill dasar pemain. Baggio ingin mengkombinasikan keduanya agar bisa menghasilkan banyak pemain muda berkualitas. Apakah rencana ini dilakukan FIGC?
Ternyata tidak. Laporan tersebut diabaikan dan dianggap angin lalu. Baggio pun akhirnya mengundurkan diri karena merasa tidak diapresiasi padahal rencananya sangat bagus. FIGC seakan masih percaya diri dengan kemampuan pemain tuanya. Tiap tim punya cara sendiri dalam merekrut pemain muda.
Keempat, anak muda Italia kini lebih gemar bermain tenis
Plot twist dari kegagalan Italia lolos Piala Dunia tiga kali berturut-turut adalah anak mudanya kini lebih gemar bermain tenis dibandingkan sepak bola. Klub-klub tenis semakin digemari. Pendapatan dari tenis kini malah lebih banyak dibandingkan sepak bola.Bahkan, ada beberapa petenis Italia yang masuk jajaran petenis top dunia dan mereka masih sangat muda. Bisa jadi, alasan ini menyebabkan makin sedikitnya talenta muda bola Italia. Namun, negara seperti Spanyol juga memiliki petenis top tapi sepak bolanya juga masih oke.
Kelima, taktik catenaccio khas Italia yang ketinggalan zaman
Italia memiliki taktik permainan yang khas bernama catenaccio. Taktik ini menyebabkan mereka gemar sekali bermain bertahan penuh. Mereka akan memberikan serangan balik yang mematikan. Jadi, mereka menunggu untuk melakukan itu.
![]() |
| Ilustrasi diolah dari berbagai sumber |
Banyak pengamat yang mengatakan bahwa taktik ini kini sudah tak relevan. Strategi menyerang lah yang kini dianggap bisa membawa kemenangan. Banyak pengamat yang bilang kalau Italia mudah sekali dibobol walau sudah susah payah bertahan dengan pertahanan maksimal. Contohnya, saat Bosnia menghancurkan mereka dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 kemarin.
Lima alasan ini dan beberapa alasan lain yang dianggap sebagai penyebab Italia gagal lolos Piala Dunia lagi dan lagi. Kabarnya sih mereka kini sudah mulai mereformasi total sepak bolanya. Kita tunggu saja apakah pada 2030 nanti, tim Azzuri bisa lolos lagi. Walau mengurangi saingan tim-tim besar, tanpa Italia, rasanya Piala Dunia hambar.
Tags
Catatanku


