Ini 8 Etika di WAG agar Selamat Dunia Akhirat

Sekarang ini, aplikasi perpesanan Whats App (WA) seakan sudah menjadi nyawa bagi semua orang. 


Makna semua di sini merupakan hiperbolis dari sebagian besar rakyat Indonesia. Tidak memiliki WA berarti mati gaya. Pun, tidak ikut di dalam Whtas App Group (WAG) artinya terkucil dari dunia internasional.

Dengan semakin masifnya penggunaan WA, rasanya mustahil jika kita tidak ikut di dalam kemeriahannya. Namun, bisa jadi, kita malah ingin menarik diri dari kemeriahan itu lantaran ada satu dua orang yang kita anggap menyebalkan. Atau, ada orang lain yang menarik diri karena justru kitalah yang menyebalkan.

Akhirnya, masuk WAG yang harusnya mempermudah komunikasi dan informasi serta menjalin silaturahmi malah berujung saling sindir dan benci. Kalau sudah begini, kehidupan di dunia nyata yang sebenarnya sudah sangat lelah malah menjadi semakin berat. Belum lagi, dosa jariyah yang dilakukan akibat mengunggah informasi yang tidak semestinya membuat pengguna WA dan anggota jamaah WAG tidak selamat dunia akhirat. Naudzubillah.

Maka dari itu, hendaknya kita harus memeperhatikan beberapa hal di dalam WAG agar kita selamat dunia akhirat. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam bersosialisai di WAG.

Saring Sebelum Sharing


Poin ini menjadi poin utama dalam etika dalam WAG. Saring dulu informasi yang akan kita bagi sebelum apa yang kita bagi tersebut tersebar di WAG. Frasa “dari grup sebelah” masih menjadi momok yang menakutkan. Kalau informasi tersebut benar, maka amal jariyah kebaikan yang didapat. Tapi jika salah?

Nah, makanya, sebelum membagikan lagi kepada orang lain di WAG, teliti betul sumber informasi yang akan dibagi. Lebih baik, jika sumber tersebut berasal dari sumber terpercaya semisal portal berita mainstream ataupun kementrian atau badan. Jangan sampai informasi yang kita bagi tidak jelas jluntrungan-nya. Atau mungkin, malah kita sendiri yang tidak membaca informasi tersebut namun malah berkeinginan menyebarkannya.

Baca Seksama Aturan WAG


Tiap WAG memiliki aturan masing-masing. Ini yang harus menjadi pedoman dasar setiap anggota. Aturan WAG ini meski tidak terlalu mengikat namun jika melanggarnya maka akan dienyahkan oleh admin WAG tersebut.

Perhatikan topik apa yang boleh dibahas di WAG dan tidak boleh dibahas. Walau mungkin apa yang kita bagi bermanfaat, namun jika aturan WAG melarang kita mengunggah informasi di luar konteks WAG atau bahkan acara di luar WAG, maka sebaiknya kita tidak lakukan. Untuk masalah ini, sekarang saya pilah-pilih WAG terutama komunitas blog. Saya lebih senang ikut komunitas yang cukup strict masalah ini. Itu lebih baik daripada notifikasi saya penuh dengan kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk saya pribadi maupun anggota komunitas lain.

Hindari Too Much of Himself


Ikut WAG berarti ikut di dalam perkumpulan. Dulu, saat saya SMA, ada sebuah motto di SMA saya yang berbunyi Mitreka Satata. Motto ini berarti sama sederajat. Tidak ada perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya. Untuk itu, saya paling menghindari too much of himself atau terlalu muncul dan eksis demi keberlangsungan nama saya pribadi. WAG adalah sebuah komunitas yang dibangun bersama untuk tujuan bersama. Makanya, saya juga tidak terlalu suka orang yang too much of himself. Bukankah Tuhan membenci orang yang sombong? Saya baru muncul jika memang diperlukan oleh anggota lain dan memang ada hal yang saya sampaikan.

Perhatikan Kapan Harus OOT

Di dalam WAG tidak selamanya serius. Sekali waktu, bolehlah bercanda sedikit atau mungkin sering disebut Out of Topic (OOT). Namun, bukan berarti kita bisa bercanda sesuka hati. Bisa-bisa, orang lain di dalam WAG juga akan jengah terhadap kita. Biasanya, saya melihat dulu jika admin WAG mulai OOT dan memberi sedikit ruang bagi anggota lain untuk OOT juga, maka sesekali saya juga ikut OOT.

Meski demikian, sebenarnya saya tidak terlalu suka bercanda melalui WAG atau dunia maya. Mungkin orang lain melihat saya sebagai pribadi serius padahal aslina tidak. Saya malah lebih suka bercanda di dunia nyata lantaran kadang candaan di dunia maya termasuk WAG bisa saja mispersepsi dan menimbulkan konflik baru. Emoji yang ada di WAG bagi saya tidak terlalu bisa mewakili perasaan yang ingin kita sampaikan.

Hindari Pembicaraan Pribadi

Namanya WAG ya berbicara kepada orang banyak. Bukan pembicaraan antar pribadi yang membuat notifikasi tak perlu semakin banyak dan membuat anggota grup lain jengah. Kalau ingin kangen-kangenan setelah tahu ada teman lama atau siapapun baru masuk di WAG, lebih baik dijapri.

Bukan heboh dengan sendirinya dan bernostalgia tanpa kenal waktu. Sungguh, kalau saya melihat seperti ini di WAG dan menjadi adminnya, saya akan beri peringatan.

Jangan Lupakan Kata “Maaf” dan “Terima Kasih”


Dua kata ini menjaidi kata sakti di dalam WAG. Walau tidak harus selalu kita ucapkan, namun kala dirasa ada hal yang mungkin kurang berkenan saat kita memberi informasi, kata maaf jangan sampai lupa kita ucapkan. Pun, saat kita bertanya, kata maaf, sebagai awalan pertanyaan juga lebih baik kita ucapkan.

Selain sebagai etika, kata maaf akan membuat anggota WAG lain menaruh simpati dan membantu kita. Dan juga, setelah kita mendapat bantuan, ucapan terima kasih jangan sampai terlewat.

Saat Harus Slow Respon

Nah ini yang menjadi salah satu momok dalam WAG. Kadang, kita tidak bisa 24/7 penuh berada dalam genggaman WAG. Entah salat, berada di jalan, mandi, ataupun yang lain. Seringkali, ada informasi penting yang harus kita tindaklanjuti.

Saya sendiri akan langsung membalas pesan dengan keadaan saya saat informasi tersebut baru saya dapat. Namun, lebih baik sebelum kita akan melakukan sesuatu yang penting, kita pasang status WA yang dapat dilihat semua orang, terutama anggota WAG. Misalnya : OFF dulu selama …..menit. Dengan begini, orang di dalam WAG tidak akan bertanya-tanya ke mana kita gerangan. Status yang ada di dalam aplikasi WA hendaknya tidak hanya digunakan untuk pamer kehidupan namun harus bisa digunakan saat keadaan genting seperti ini.

Ucapkan Salam saat Masuk dan Keluar WAG

Bagi saya, WAG itu seperti sebuah aula besar atau ruangan besar. Saat masuk dan keluar, maka hendaknya kita mengucapkan salam. Salam perkenalan atau izin left karena beberapa alasan. Terkecuali kalau ponsel kita rusak atau dicuri orang. Atau pun, saat WAG yang diikuti terasa tidak berfedah lagi maka salam tersebut tidak perlu diucapkan. WAG seperti ini bagi saya semisal WAG yang berisi pembicaraan ngalor ngidul tanpa ada tujuan WAG tersebut dibentuk. Bisa juga saat saya tiba-tiba dimasukkan WAG yang saya tidak tahu itu WAG untuk apa. Saya akan langsung left tanpa permisi lagi.


Nah itulah beberapa etika WAG agar kita tetap dihargai orang lain dan selamat dunia akhirat. Sebenarnya, saya sendiri cukup pasif di dalam WAG lantaran lebih senang membalas japri kerjaan saya. Bagaimana dengan Anda sendiri?

2 comments:

  1. Saya punya grup WA kalau pas ada project doang. Udah kelar ya leave out. Cuma ada 1 grup WA sih dengan 3 teman bloggers. Grup WA keluarga pun saya udah keluar, hahah... Berisik bikin pusing...

    ReplyDelete
  2. Nice tips mas. Sekarang WAG tuh kemunculannya bagai jamur di musim hujan.
    Hape sampe ngehang saking banyaknya.
    Udah gitu gak semua member bisa cerdas.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.