Kala Berkunjung ke Toko Buku Tak Semenyenangkan Dulu

“Kini, toko buku tak ubahnya toko serba ada. Atau mungkin namanya harus diganti, ya?”

Alasan saya datang ke toko buku untuk mencari buku karya teman Kompasianer saya, Mbak Weedy Koshino dan Mbak Gana Stegmann
Sepenggal petikan tersebut keluar dari mulut rekan saya kala berkunjung ke beberapa jaringan toko buku nasional. Saya sebenarnya sepenuhnya tidak sependapat akan opini tersebut. Hingga kini, toko buku adalah tempat terbaik menghabiskan akhir pekan selain perpustakaan dan museum. Kalau pun disuruh memilih antara toko buku atau kafe, ya saya lebih memilih toko buku.

Namun, jika ditelisik lebih mendalam, opini tersebut tidak sepenuhnya salah. Coba saja perhatikan beberapa toko buku yang lebih banyak menjual alat tulis dan segala keperluan selain kebutuhan akan bacaan. Alat olahraga, kalkulator, bahkan mesin absensi sidik jari pun dijual. Yang membuat saya kadang geleng-geleng kepala, sering kali barang-barang tersebut tidak ada yang membelinya. Wong namanya toko buku ya orang pasti cari buku.

Entah, apa alasan pengelola jaringan toko buku tersebut memajang barang-barang tersebut. Bisa jadi, semua itu dilakukan untuk menjaga eksistensi toko buku agar tetap bisa bertahan. Sudah bukan rahasia umum, jika kondisi industri buku cetak saat ini sedang lesu. Walau bukan disebabkan adanya buku digital yang justru tidak sedang berkembang juga, minat baca masyarakat yang rendah menjadi penyebabnya.

Penampakan di dekat pintu msauk toko buku.
Atas dasar itu pulalah, mendatangi toko buku tidak semenyenangkan dulu. Jika dulu buku-buku yang terpajang benar-benar tertata rapi dan memiliki daerah kekuasaan sendiri sesuai jenisnya, kini hal itu tal berlaku lagi. Apa maksudnya?

Dulu, kala saya pergi ke TB Gramedia Basuki Rahmad Malang, saya akan njujung (menuju dengan segera jw.) jenis buku favorit saya. Biasanya, saya akan langsung menuju bagian buku traveling dan buku sejarah-sosbud.

Saat itu, setiap buku baru jenis tersebut akan langsung terjajar rapi dengan pola yang sangat menarik. Misalnya, buku baru tersebut ditata dalam jumlah besar dan dikelilingi buku-buku lain yang telah lama terbit. Karena jumlahnya banyak, maka saya langsung semangat untuk memilih buku mana yang akan saya beli sesuai bujet. Belum lagi, kalau ada salah satu buku yang sampulnya telah terbuka. Rasanya, itu adalah kenikmatan paripurna mengunjungi toko buku.

Saya juga baru tahu kalau toko buku sekarang menual KIT IPA
Sekarang, kebahagiaan itu sedikit hilang. Buku-buku baru terjajar hanya satu baris. Kadang, saya juga mendapati buku-buku yang ditata sekadarnya. Yang lebih miris, ketika saya melihat dereta buku traveling, lama-kelamaan jumlahnya semakin sedikit. Itupun bercampur dengan peta wisata yang seharusnya diletakkan di tempat terpisah. Maka, rasa untuk menjelajahi buku demi buku pun sedikit hilang.

Parahnya lagi, saya cukup jengkel ketika pengelola toko buku sering memindahkan rak buku jenis tertentu ke tempat lain. Misalnya jika sebelumnya saya menemukan buku bergenre traveling di dekat tangga dan deretan komik, eh pada beberapa waktu selanjutnya, saat saya mengunjungi toko buku tersebut, sudah berpindah ke bagian lain. Ke bagian yang cukup nylempit dan jauh dari jangkauan pengunjung.

Buku travelling yang ditata sekenanya dan bercampur dengan peta wisata
Saya jadi berpikir. Tujuan pengunjung datang ke toko buku kan untuk membeli buku yang mereka inginkan. Nah, kalau ditempatkan di tempat yang tersembunyi, apa ya akan menarik? Malah yang banyak terpajang buku-buku anak-anak yang sebenarnya tak perlu banyak diberi ruang karena bisa dipajang berdekatan dengan bagian alat tulis.

Saya semakin miris ketika tak mendapati buku terbitan beberapa bulan sebelumnya. Kala buku tersebut baru terbit, saya masih belum memiliki cukup uang sehingga menunda waktu pembelian pada bulan berikutnya. Namun, saya harus menelan pil pahit karena ternyata buku tersebut tidak tersedia lagi di toko buku yang saya maksud. Jadi, mau tak mau, saya pun mencari melalui toko online dengan harga yang bisa jadi jauh lebih tinggi akibat adanya ongkos kirim.

Pernaj-pernik anak juga mulai menggeser buku bacaan.
Bisa jadi, yang masih membuat saya betah berlama-lama di toko buku berjaringan adalah adanya diskon tertentu yang memajang aneka buku lawas namun masih bagus untuk dibaca. Pernah juga saya mendapati potongan diskon jika menggunakan uang elektronik, seperti Go-Pay dan OVO dengan persentase tertentu. Kalau sudah begini, mengisi saldo uang elektronik pun akan saya lakukan.

Saya jarang mendatangi toko buku bekas. Alasannya, saya tak pandai menawar. Kadang, saya juga menemukan buku bajakan yang sangat bertentangan dengan prinsip nurani saya sebagai penulis. Walau demikian, untuk sesekali waktu, mengunjungi toko buku bekas juga menyenangkan. Terlebih, jika saya menemukan majalah bekas dengan harga yang sangat miring.

Membeli buku di toko atau pasar buku bekas juga mengasyikkan
Semua memang kembali kepada pilihan. Dengan maraknya transaksi daring, membeli buku kini tak perlu ke toko buku. Hanya dengan beberapa langkah, buku bisa berada di tangan. Tapi, mengunjungi dan membeli buku di toko buku, tetaplah kegiatan mengasyikkan yang harus tetap dilestarikan.

4 comments:

  1. kalau aku malah senengnya pergi ke toko buku offline mas, walaupun isinya sudah campur aduk :D

    ReplyDelete
  2. Aku suka beli buku murah di pusat buku murah di Jogja. Dibandingkan dengan Gramedia harganya lumayan murah. Tapi zaman sekarang memang kalo toko buku ga upgrade sebagai pusat lifestyle agak susah menarik anak2 muda untuk belanja buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak lebih murah juga ya...
      harus update juga memang

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.