Cermin Angin, Tidak Harus Menjadi yang Pertama untuk Jadi yang Terbaik

Kidung dan kakeknya. - YT TVRI Yogyakarta

Televisi Republik Indonesia (TVRI) sejak dulu dikenal sebagai gudang film- film berkualitas, terutama film yang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak.

Hingga kini, dengan semakin berkurangnya tayangan yang bisa dikonsumsi anak-anak, TVRI masih berupaya untuk menjadi pelega dahaga tersebut. Serial anak-anak, dengan segmen tayangan khusus cerita anak pun ditayangkan terutama saat akhir pekan. Serial-serial ini diproduksi oleh TVRI Daerah yang bertujuan pula mengangkat budaya lokal.

Salah satunya adalah TVRI Jogja dengan cerita anak unggulannya berjudul Cermin Angin. Berlatar kehidupan pedesaan di daerah Sleman, Yogyakarta, Cermin Angin merupakan salah satu karya apik sineas Jogja. Ide cerita yang segar dan disesuaikan dengan perkembangan zaman namun tidak melunturkan nilai-nilai budaya luhur, menjadi salah satu daya tarik dari film yang hanya berdurasi sekitar 50 menit ini. Dengan pemain-pemain lokal yang mumpuni, Cermin Angin juga memiliki adegan-adegan unik nan sederhana yang cukup memukau.

Sinopsis

Film dibuka dengan alunan langgam jawa khas dan menampilkan suasana pedesaan di daerah Sleman. Aktivitas suatu pagi di desa tersebut mulai tampak dengan keceriaan dan kelucuan anak-anak sekolah dasar yang akan berangkat sekolah dengan bersepeda. Melintasi area pemukiman yang cukup asri, dengan gelak tawa khas, mereka siap menyambut hari dan tantangan baru.

Tantangan baru tersebut adalah seleksi lomba menyanyi yang akan diselenggarakan oleh sekolah dalam rangka menyambut tamu dari Kabupaten Sleman. Dua orang anak laki-laki yang pandai menyanyi akan bersaing untuk memperebutkan posisi sebagai penyanyi utama. Mereka adalah Nada (diperankan oleh Daniswara) dan Kidung (diperankan oleh Rama).

Masing-masing anak memiliki bakat dan kekhasan tersendiri. Nada, yang merupakan anak dari keluarga berkecukupan telah berlatih olah vokal dengan guru privatnya setiap pekan. Ia pun merasa bahwa ia adalah siswa paling berbakat menyanyi di sekolahnya. Belum lagi, dukungan orang tua yang begitu besar membuat Nada semakin jumawa. Ia yakin bisa menjadi yang pertama.

Nada berlatih keras menyanyi. YT TVRI Yogyakarta

Sementara Kidung, seorang anak tak berayah yang tinggal bersama ibu dan kakeknya hanya berlatih menembang lagu jawa dimentori sang kakek, seorang abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada awalnya, ia merasa sangat yakin untuk bisa mengalahkan Nada yang dikenal sebagai anak yang sombong.

Dengan semangat, ia pun berlatih lagu-lagu daerah lain yang selama ini jarang dinyanyikannya. Beberapa orang terdekat Kidung, seperti kakek dan tetangganya, malah menyarankan agar ia menembang Jawa saja. Sejatinya, itulah sebenarnya kelebihan Kidung yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain. Namun, Kidung bersikukuh ia tetap menyanyi lagu daerah lain agar ia bisa mengalahkan Nada.

Hingga akhirnya, Kidung pun harus menelan pil pahit. Ia hanya menjadi penyanyi pendamping atau penyanyi bayangan dari Nada. Guru-gurunya lebih memilih Nada sebagai penyanyi utama pada acara pentas seni menyambut tamu dari Kabupaten. Kidung pun akhirnya merasa rendah diri dan mengalami pergolakan batin tidak mau menyanyi lagi. 

Di sinilah kemudian peran orang-orang terdekatnya, terutama ibu dan kakeknya yang penuh kasih sayang menyemangati Kidung agar tetap bisa tampil mengiringi Nada sebagai penyanyi pendamping.

Peran Sentral Keluarga, Teman, dan Guru

Sama dengan kebanyakan cerita anak lainnya, Cermin Angin memiliki alur yang mudah ditangkap. Watak para tokoh, terutama Kidung dan Nada cukup tergambar dengan apik, baik melalui dialog maupun perilakunya. 

Tokoh kakek, yang sebenarnya juga menjadi sentral film ini muncul di saat yang tepat. Walau tak terlalu dominan, sang kakek yang juga berperan sebagai pengganti ayah Kidung menjadi salah satu poin penting. Bagaimana ia berperan sebagai kepala keluarga dengan kearifan lokal memberi nasehat dan nilai-nilai luhur budaya jawa kepada sang cucu.

Teman-teman Kidung, dengan gaya celoteh khas Jawa Jogja cukup menghibur di setiap adegan. Mereka kerap memberi masukan dan berbagai pertimbangan kepada Kidung saat ia mengalami kesusahan. Rasa kesetiakawanan yang mereka tunjukkan kala Kidung dicemooh oleh Nada dan teman-temannya menjadi salah satu nilai tersendiri. Walau pada akhirnya, Kidung tak bisa menyelesaikan masalah pergolakan batinnya dan sang kakek pun turun tangan.

Kidung dan teman-temannya berangkat ke sekolah. YT TVRI Yogyakarta

Guru-guru Kidung, yang cukup sibuk dalam persiapan menyambut tamu dari Kabupaten, juga proaktif memberi banyak informasi mengenai Kidung kepada ibunya. Mereka juga kerap mengkhawatirkan perasaan Kidung yang hanya mereka jadikan sebagai penyanyi pendamping.

Dengan pertimbangan yang dilematis, guru-guru itu sekuat tenaga berusaha agar kedua aset yang dimiliki oleh sekolah mereka bisa tampil maksimal. Namun, tidak membuat salah satu dari keduanya merasa dipinggirkan.Pada beberapa adegan malah menampilkan seorang guru pria mengantarkan baju adat yang akan dipakai Kidung untuk tampil ke rumah Kidung.

Ia juga was-was kala Kidung tak hadir dalam setiap latihan. Saat pertunjukan akan berlangsung dan Kidung belum juga muncul, ia pun tak segan datang ke rumah sang anak.

Guru Kidung mencari Kidung yang tak juga muncul. YT TVRI Yogyakarta

Dari beberapa adegan tersebut bisa diambil pelajaran bahwa menjadi seorang guru tidak semudah yang dibayangkan. Ia tak hanya sekedar mengajar, namun juga harus bisa mengambil langkah taktis dalam mengatasi masalah yang menjerat muridnya, terutama mengenai kegiatan perlombaan atau pentas seni. Ia juga harus bisa membuat banyak pertimbangan matang sebelum memutuskan memilih salah satu anak untuk tampil dan menjadi andalan.

Menampilkan Kehidupan Jogja Istimewa dengan Cukup Apik

Cermin Angin sebagai simbol kehidupan warga, terutama anak-anak Sleman menampilkan kehidupan mereka dengan cukup apik. Penggambaran wilayah pedesaan yang mulai tergeser oleh nilai-nilai baru dari daerah kota juga menggambarkan Sleman sebagai daerah aglomerasi Kota Jogja.

Rumah Kidung yang digambarkan sangat sederhana dengan banyak pernak-pernik wayang berada tak jauh dengan rumah Nada yang bisa dibilang cukup mewah. Rumah sederhana dan perumahan cukup elit juga kerap ditemukan di daerah Sleman dengan jarak yang berdekatan.

Kidung bersalaman kepada kakek dan ibunya. YT TVRI Yogyakarta

Dua anak dengan latar belakang berbeda tersebut juga bersekolah di tempat yang sama. Nada yang kerap sibuk bermain gawai juga bersinggungan dengan Kidung yang lebih senang bermain sepeda dengan teman-temannya.

Aktivitas ayah Nada yang cukup sibuk sebagai pegawai kantoran juga berseberangan dengan kakek Kidung yang bersahaja mengayuh sepeda menuju Keraton Jogja. Hanya sosok dua ibu, ibu Kidung dan ibu Nada yang sama-sama memiliki kasih sayang tak terbatas pada anak-anaknya menjadi persamaan diantara kedua keluarga itu.

Bukan Hanya Sekadar Memberi Pengajaran

Tak seperti film anak lain, terutama yang viral di bioskop, Cermin Angin tak sekedar memberi pengajaran. Filosofi angin, yang kerap tak terlihat namun dibutuhkan oleh banyak orang, tersirat dalam epilog film ini. 

Pengajaran yang memberi makna bahwa sekecil apapun peran kita dalam masyarakat, namun jika peran dan tanggung jawab itu dilaksanakan sebaik-baiknya, maka kita akan menjadi yang terbaik. Menjadi sesuatu yang sangat bernilai walau kita bukanlah yang utama atau yang pertama. Pengajaran inilah yang diajarkan oleh Kakek Kidung kala sang cucu merasa rendah diri hanya dijadikan penyanyi pendamping.

Ibu Kidung yang mengapresiasi anaknya sebagai penyanyi pendamping. YT TVRI Yogyakarta

Fim ini ditutup dengan kutipan Serat Wulangreh, karya sastra macapat Sri Susuhunan Pakubuwono IV yang dinyanyikan oleh Kidung. Tembang yang bermakna ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna. Laku yang menonjokan karakter, budi pekerti luhur, dan menjauhkan diri dari watak angkara. 

Sejatinya, menuntut ilmu dan meraih kesuksesan bukan pada hasil utama, namun pada proses baik, kerja keras, dan tanpa banyak pikiran negatif untuk menjadi yang pertama, terbaik, asal terus bisa bermanfaat.

12 comments:

  1. Suka alurnya, betul-betul relate sama kehidupan kita. Apalagi foto di atas menggambarkan betul suasana kota Jogja dan kesederhanaannya 😍

    Bicara mengenai karya, saya jadi rindu mau menonton series Keluarga Cemara yang notabene saya anggap sebagai salah satu karya terbaik di Indonesia 🙈

    Semoga semakin banyak karya-karya bermutu seperti Cermin Angin ya mas, berharap betul agar ke depannya yang disajikan di layar kaca bisa menjadi sarana belajar mengenai kehidupan yang nggak didapat di bangku sekolah 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak senang ya lihatnya adem
      dan jogja jadi keliatan banget di film ini

      Delete
  2. Aku pernah nonton tayangan ini 😁.
    Jujur, nontonnya ngga sengaja ketemu filmnya sewaktu gonta-ganti channel.
    Karena kesan njawaninya kental aku ikuti tayangannya ternyata cukup apik produksinya.

    ReplyDelete
  3. Masalahnya, saya masuk paling belakangan, dan masih tetap yang terbelakang. Gimana tuh mas... wkwkwkwkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Wah jadi kangen jogjaa mas wkwkw sepakat banget,TVRI punya banyak tayangan serial anak" yg menarik dan tentu dengan banyak pesan moral di dalamnya 😁 lama sekali ndak nonton TV saya rasanya

    ReplyDelete
  5. Saya pas kebetulan nonton film ini walau telat beberapa menit; film dengan penggarapan sederhana namun apik. Pesan yang tersampaikan juga mengena jika menontonnya dengan cermat.

    Terima kasih seudah berbagi. Salam kenal, mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mas bagus pesannya ya
      salam kenal juga
      terima kasih sudah berkunjung :)

      Delete
  6. TVRI memang banyak menelurkan cerita" khas masyarakat Indonesia banget, apalagi yg ada di daerah" dulu sy pernah nonton cerita ttg keluarga cemara yg ceritanya deket banget dengan kehidupan sehari" film ACI jg Aku Cinta Indonesia, dulu sih booming banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya ACI itu zaman kapan ya mbak hehe
      sudah lama banget

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.