Integrasi Proyek Sosial BWAP Carla Yules, Gerbang Pembuka Mahkota Miss World Pertama untuk Indonesia

Sumber: IG Bunda Latinas

Ajang Miss World 2021 akan diselenggarakan pertengahan Desember mendatang di Puerto Rico.


Berbeda dengan ajang lain yang mengedepankan penampilan para kontestan, ajang Miss World pada beberapa tahun terakhir lebih mengutamakan proyek sosial yang dibawa oleh masing-masing kontestan. Proyek sosial ini memiliki nama Beauty With A Purpose (BWAP). Setiap kontestan Miss World harus melakukan sebuah proyek sosial yang memiliki dampak bagi masyarakat sekitar.

Proyek sosial ini akan dilombakan dalam sebuah kategori khusus. Pemenang proyek BWAP akan otomatis lolos ke babak semifinal pertama Miss World. Entah 40 besar, 30 besar, atau 20 besar. Biasanya, pemenang BWAP juga akan memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan kontestan lain. Atas alasan itu, proyek BWAP menjadi salah satu inti dari ajang Miss World yang pada tahun ini sudah memasuki edisi ke-70. 

Indonesia Langganan Juara BWAP

Indonesia sendiri memiliki prestasi bagus dalam proyek BWAP ini. Wakil Indonesia kerap mampu mempresentasikan apa yang sudah mereka lakukan bagi bangsa Indonesia pada misi yang pertama kali dimulai sejak 2001 itu. Terhitung, Indonesia sudah memboyong 5 gelar BWAP.

Gelar pertama Indonesia diraih oleh Astrid Elena pada tahun 2011. Astrid yang juga putri dari pengacara Frederich Yunadi tersebut berhasil memenangkan proyek BWAP bagi Indonesia. Tak hanya itu, berkat raihan ini, Astrid juga berhasil lolos ke babak 15 besar Miss Universe 2011. Astrid sendiri juga merupakan wanita Indonesia pertama yang berhasil lolos ke babak semifinal Miss World. Jika ada Artika Sari Devi sebagai pembuka placement bagi Indonesia pada ajang Miss Universe, maka Astrid adalah orang pertama di ajang Miss World. 

Baca juga: Mengenang Gelar Puteri Indonesia Perdamaian

Kemenangan Astrid baru bisa diraih kembali tiga tahun kemudian lewat Maria Rahajeng. Saat itu, Maria Rahajeng membangun sebuah jembatan yang putus di Lebak Banten. Jembatan yang diberi nama Golden Age itu pun menarik perhatian juri. Tak hanya meraih BWAP, Indonesia juga berhasil masuk ke babak 25 besar.

Sejak 2014, Indonesia bahkan berturut-turut memenangkan BWAP hingga tahun 2017. Pada 2015, Maria Harfanti yang mewakili Indonesia di ajang ini memaparkan program sosial pembuatan sanitasi bagi masyarakat Kampung Kamancing yang terletak di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Banten. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan desa yang gersang dengan tingkat sanitasi buruk.

Ada tiga poin utama yang menjadi tujuan dari BWAP Maria Harfanti (Mahar). Pertama, pengadaan sumber air bersih, kedua penjernihan air dan instalasi mandi cuci kakus (MCK), serta peyuluhan gaya hidup sehat. Ketiga poin tersebut benar-benar dieksekusi dengan apik oleh Mahar. Ia tak hanya memenangkan BWAP tetapi sekaligus menduduki peringkat ketiga dalam ajang Miss World 2015. Prestasi itu adalah prestasi tertinggi pertama Indonesia di ajang Miss World. 

Baca juga: Daftar Provinsi yang Meraih Gelar Puteri Indonesia Terbanyak

Kemenangan berulang juga diteruskan oleh Natasha Manuela pada tahun 2016 dan Achintya Nilsen pada tahun 2017. Sayang, pada 2 gelaran Miss World terakhir Indonesia belum berhasil memenangkan penghargaan BWAP. Makanya, tahun ini lewat Carla Yules, Indonesia sangat berpeluang besar memenangkannya. 


Proyek BWAP Terintegrasi Carla di Desa Terpencil

Carla Yules sudah melakukan beberapa proyek terintegrasi untuk program BWAP yang ia bawa ke Miss World nanti. Dalam paparan yang diunggah akun resmi Miss World, setidaknya ada tiga poin penting yang sudah diselesaikan Carla dan timnya. Carla memilih sebuah desa terpencil di Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Desa tersebut sangat jauh dari pusat keramaian dengan akses lokasi yang sangat buruk. Di desa tersebut juga tidak dialiri listrik. Pada awal paparannya, Carla memberikan sebuah kontradiksi walau menurut data penetrasi aliran listrik Indonesia cukup tinggi di atas 90 persen, tetapi masih ada lho wilayah di Indonesia yang belum mendapatkan pasokan listrik. Ironisnya, wilayah tersebut berada tak jauh dari ibukota Jakarta. 


Narasi pun kemudian begitu apik menggambarkan bagaimana susahnya warga desa tersebut dalam beraktivitas tanpa adanya aliran listrik. Salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar yang begitu terbatas dengan bantuan lampu obor.

Kondisi semakin tidak menguntungkan ketika semua warga desa belum melakukan vaksinasi. Alasan mereka belum melakukan vaksinasi adalah biaya transportasi ke layanan kesehatan terdekat. Dalam satu kali perjalanan, warga harus merogoh kocek sekitar 90 ribu rupiah. Total, jika melakukan perjalanan pulang pergi, paling tidak mereka harus merogoh kocel 200 ribu rupiah. Padahal, penghasilan mereka dari bertanam cabai tak sampai 50 ribu rupiah per hari. 

Baca juga: Makna Menjadi Pageant Lover bagi Seorang Pria

Carla juga menemukan fakta bahwa sebenarnya di desa tersebut pernah dialiri listrik melalui Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH). Sayang, generator pada instalasi listrik tersebut rusak selama 20 tahun lebih. Akibatnya, tak ada pasokan listrik di desa tersebut.

Melihat berbagai masalah tersebut, Carla pun memetakan tiga poin penting penyelasian yang akan ia jadikan dalam proyek BWAP. Pertama, mempermudah akses vaksin bagi masyarakat. Kedua, perbaikan instalasi pembangkit listrik. Ketiga, peningkatan taraf ekonomi masyarakat dengan sumber daya alam dan manusia yang ada.

Proyek pertama berhasil dilakukan Carla dan timnya dengan apik. Ia berkoordinasi dahulu dengan layanan kesehatan untuk bisa melakukan vaksinasi covid-19 massal. Carla dan tim pun memboyong semua warga desa menggunakan truk ke Puskesmas terdekat. 

Cahaya Terang untuk Desa Tertinggal

Salah satu gambaran paling membuat penonton terharu adalah ketika Carla menggenggam tangan dan memeluk seorang nenek yang ragu untuk divaksin. Bukan hal mudah untuk membujuk para lansia agar mereka mau divaksin. Perlu upaya komunikasi yang telaten dan sabar agar mereka bersedia demi kesehatan mereka sendiri dan orang di sekitarnya. Carla dan tim melakukan hal ini dengan apik. 

Carla memegang tangan seorang nenek yang ragu untuk divaksin. - Dok. Miss Indonesia


Setelah vaksinasi massal berlangsung lancar, maka proyek perbaikan kembali PLTMH pun mulai dilakukan. Dengan semangat gotong royong sesuai pengamalan sila ketiga Pancasila, warga desa mulai membangun asa mereka kembali mendapatkan pasokan listrik. Akhirnya, PLTMH pun bisa berfungsi kembali dan desa tersebut bisa dialiri listrik. Aktivitas menjadi lancar sehingga mereka bisa lebih produktif. 

Baca juga: Harta, Tahta, Frederika

Untuk meningkatkan produktivitas warga, Carla juga mengajak warga untuk membuat Kue Talam, salah satu kue khas dari Bogor. Kue tersebut kemudian dijual ke pasar terdekat sehingga warga juga mempunyai penghasilan tambahan.

Apa yang dilakukan Carla sungguh membuat haru. Sederhana tetapi sangat berdampak besar bagi masyarakat sekitar. Proyek BWAP yang ia lakukan bukan kaleng-kaleng dan berkelanjutan. Semoga saya ia berhasil memenangkan BWAP dan mahkota utama Miss World pertama untuk Indonesia.

6 comments:

  1. Good luck Carla, semoga bawa pulang mahkota Miss World yaaa

    ReplyDelete
  2. Baru tahu kalo di daerah Bogor ada desa yang masih sangat tertinggal, padahal dekat dengan ibukota Jakarta ya. Belum ada listrik, belum ada vaksinasi, dan ekonomi masih tertinggal.

    Untungnya Carla dan Timnya bekerja, sekarang warga desa sudah di vaksin, listrik juga ada dari PLTMH dan juga diajari ketrampilan membuat kue talam untuk dijual secara online, eh di pasar tradisional.

    Unt

    ReplyDelete
  3. semoga beliau terus sukses dalam kariernya

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.