Tongkrongan Ngafe; dari Pesugihan Hingga Spoiler Film

Ilustrasi. https://www.imural.id/

Kalau masih awal bulan, rasanya ngafe adalah kegiatan yang wajib untuk dilakukan.


Yah namanya juga uang masih banyak. Pasti ada saja keinginan untuk sekadar healing ata self reward. Selain ngemall, ngafe juga merupakan salah satu kegiatan yang juga bisa jadi pilihan. Alasannya, dengan ngafe, kita bisa bertukar banyak pikiran sekaligus berbincang-bincang banyak hal dengan rekan.

Saya sendiri memilih kafe indoor sebagai tujuan ngafe. Alasannya satu. saat ini sedang musim hujan. Saya tak mau jika nanti saat enak-enak duduk di area outdoor tiba-tiba hujan turun dengan deras. Sayang dong outfit yang sudah saya pakai bisa basah dan lecek. Belum lagi, jika saya datang ngafe saat akhir pekan.

Pastinya, kondisi kafe yang sangat ramai menjadi alasan untuk memilih area indoor. Gak lucu kan kalau tiba-tiba hujan saya sedang di area outdoor sementara area indoor penuh? Pasti bingung cari tempat duduk sementara hujan di luar turun dengan deras. Walhasil, acara ngafe yang semestinya menyenangkan bisa berubah jadi bencana.

Saya juga menghindari memilih ngafe di tempat yang menyediakan tempat duduk dari krat bekas minuman bersoda. Asli, saya males banget kalau duduk di tempat semacam itu. Usia saya sudah tak lagi muda. Sudah 30+. Badan ini rasanya encok kalau duduk terlalu lama di atas krat. Estetik sih tapi tidak terima kasih. Saya lebih memilih kafe yang memiliki tempat duduk proper. Yah semacam sofa atau kasur untuk selonjoran.

Untuk masalah menu sjh saya tidak terlalu ribet. Asal ada menu non-kopi, bagi saya sudah cukup. Kalau ada makanan berat yang enak, tentu saya akan dengan senang hati memilih kafe tersebut. Yah sekalian makan siang atau makan malam. Tidak perlu lagi mencari tempat lain.

Berbeda dengan warkop yang sering saya gunakan untuk bekerja, kafe malah sering saya gunakan untuk mengobrol. Saya tidak mau mengobrol topik yang berat-berat saat ngafe. Biasanya topik yang saya perbincangkan dengan rekan di kafe seputar kegiatan atau lingkungan sekitar.

Mulai menggunjing si A, si B, dan si C, dst. Namun, saya sih tidak mau terlaru larut saat menggunjing orang. Malas menanggung dosa. Makanya, saya hanya mereview tipis-tipis. Tidak sampai masuk ke dalam perbincangan yang lebih dalam.

Ada satu topik yang begitu sering kami bicarakan saat ngafe. Tak lain dan tak bukan adalah topik misteri pesugihan. Entah bagaimana ceritanya, circle ngafe saya suka sekali membahas masalah pesugihan ini. Biasanya sih bermula dari pergunjingan tentang seseorang, eh ujung-ujungnya malah nyambung ke masalah pesugihan.

Walau kami ini lintas agama yang memiliki tradisi dan kepercayaan berbeda, tetapi jika berbicara soal pesugihan rasanya satu suara. Ada rasa kepo yang mendalam dan serius sehingga topik menjadi seru. Apalagi, kalau topik yang dibahas soal tumbal dan teknik pesugihan yang digunakan.

Kami sering berbincang masalah bagaimana awal mula sebuah pesugihan menelan tumbal. Semisal, saat ada yang mulai sakit, kecelakaan, dan lain sebagainya. Biasanya, kami menghitung rentang antara seseorang yang menggunakan pesugihan mendapatkan hartanya dengan tumbal yang mulai diambil.

Ada yang 5 tahun, 10 tahun, bahkan 20 tahun. Kami juga membahas banyak hal seputar tektin pesugihan yang digunakan. Ada yang lewat susuk, babi ngepet, dan lain sebagainya. Kadang kami berdiskusi mengenai keefektifan suatu teknik dalam mendatangkan uang.

Pernah suatu ketika, ada rekan yang iseng menghubungi seorang paranormal yang membuka jasa pesugihan di sebuah majalah. Ia mencari tahu bagaimana teknik yang digunakan, berapa harganya, dan ada tumbalnya. Kami baru tahu kalau harga pesugihan disesuaikan dengan tumbalnya. Harga paling murah adalah pesugihan yang hanya menumbalkan diri sendiri dalam bentuk celaka. Walau paling murah, rasanya saya ngeri membayangkannya. Spoiler ending dari mereka yang sudah pernah melakukannya benar-benar ngeri.

Rekan saya yang gemar menulis ulasan film korea juga kerap bercerita soal pesugihan di film korea yang ia lihat saat kami ngafe. Salah satunya adalah kisah dampak pesugihan di film Revenant. Dalam film tersebut, Na Byung Hee (Joo Bo Bi) dan Yeom Seung Ok (Kang Gil Woo) diceritakan melakukan pesugihan di tahun 1958.

Siapa sangka, setelah mengorbankan seorang remaja perempuan, usaha pasutri tersebut berkembang pesat. Mereka menjadi konglomerat terkenal. Hal ini lah yang menjadikan keturunan Yeom menjadi tajir melintir tanpa kekurangan. Namun, satu per satu anggota keluarga mereka akhirnya menjadi tumbal seperti anaknya. Orang terdekat yang tidak bersalah pun akhirnya menjadi sasaran roh jahat.

Dari sini kami menyadari bahwa meski ceritanya seru, pesugihan tidaklah baik. Apapun alasannya, pesugihan akan menyebabkan banyak kesengsaraan bagi orang yang melakukannya. 

1 Comments

Sebelumnya Selanjutnya