"Enklava", Mekarnya Persahabatan di Tengah Api Konflik SARA

Poster Film. Sumber : Enklava Film
Orang Serbia menganggap orang Albania musuh dan demikian pula sebaliknya. 

Dua etnis berbeda latar belakang dan agama tersebut menjadi seteru sejak bertahun-tahun lamanya. Konflik yang semakin memuncak dengan kehadiran sebuah negara bernama Kosovo pada 2008. Sebuah negara yang secara de facto merdeka, namun belum diakui secara menyeluruh oleh dunia internasional. Termasuk, negara Serbia yang mengklaim Kosovo adalah bagian dari provinsinya walau sejak Perang 1999, wilayah ini telah berada dalam pemerintahan khusus PBB.

Kosovo memang berbeda. Tanah unik ini dihuni oleh mayoritas etnis Albania yang beragama Islam dengan beberapa kantong dipenuhi oleh etnis Serbia yang beragama Kristen Ortodoks. Wilayah enklave, daerah kantong mayoritas Serbia cukup tersebar merata meski banyak yang terkonsentrasi di wilayah utara Kosovo.

Enklave Serbia diantara mayoritas Albania di Kosovo yang ditunjukkan warna merah. (Wikipedia).
Salah satu kantong yang menjadi ajang sengketa dua etnis tersebut adalah Vrelo. Dengan kekayaan alam yang melimpah, perebuatan atas tanah leluhur yang sama-sama dilakukan oleh kedua etnis itu coba digambarkan melalui film Enklava. Sebuah film produksi gabungan sineas Serbia-Jerman ini memaparkan bagaimana kehidupan warga etnis Serbia dalam sebuah enklave yang dikelilingi oleh mayoritas etnis Albania. Diproduksi tahun 2015, film yang menjadi nominasi Piala Oscar kategori film berbahasa asing terbaik tersebut banyak mendapat banyak pujian meski tak luput dari kritik.

Sinopsis 

Film diawali dengan adegan seorang anak SD yang sedang belajar menulis sebuah karangan di sekolahnya. Anak bernama Nenad (diperankan Filip Subarić) tersebut menjadi satu-satunya siswa di sekolah yang dikelola oleh Uni Eropa dan PBB. Setiap harinya, ia harus diantar jemput oleh tentara KFOR (Tentara NATO untuk Kosovo) dengan tank anti peluru. Kegiatan ini dilakukan karena ia harus melewati daerah yang dihuni oleh mayoritas etnis Albania sebelum sampai di rumahnya.

Nenad, seorang anak Serbia yang jadi satu-satunya murid di sekolahnya. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Saat perjalanan, tak jarang tank yang ditumpangi dilempari oleh anak-anak Albania yang hanya bisa melihat Nenad bersekolah. Sementara, mereka menghabiskan waktu dengan bermain atau menggembala domba. Nenad hanya tinggal bersama ayahnya, Voji (diperankan Nebojša Glogovac) dan kakeknya yang sedang sakit keras, Milutin (diperankan Meto Jovanovski).

Nenad berangkat sekolah dengan tank tentara. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Nenad tak punya teman. Tak ada anak Serbia lain di dekatnya. Kehadiran seorang imam Gereja Ortodoks Timur dari Beograd, ibu kota Serbia, menjadi warna baru baginya. Sang imam yang juga menumpang tank untuk sampai di bekas runtuhan Gereja Ortodoks Timur kerap mengajak Nenad bermain, belajar, dan menanyakan segala hal tentang keluarganya.

Nenad memang sangat malang. Sang ayah gemar minum alkohol, berwatak tempramental, dan kerap menghardiknya dengan ucapan kasar. Kebencian sang ayah dengan orang-orang Albania menambah daftar kelam kehidupan Nenad yang tumbuh dengan kebencian.

Meski begitu, sang kakek yang hanya bisa berbaring di atas ranjang dan akhirnya meninggal menjadi penguat baginya. Ia tak memupuk benci pada orang-orang Albania. Termasuk, saat dua anak Albania, memintanya ikut masuk ke dalam tank yang ia tumpangi. Mereka pun juga kerap bermain bersama hingga ada salah seorang cucu pemuka masyarakat Albania yang tidak suka jika teman-temannya bermain bersama seorang anak Serbia.

Nenad dan sang ayah. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Anak bernama Baskim (diperankan Denis Murić) tersebut begitu menyimpan dendam pada orang-orang Serbia. Ia menganggap ayah Nenad adalah pembunuh ayahnya. Baginya, orang-orang Serbia harus enyah dari tanah kelahirannya. Kebenciannya semakin menjadi-jadi kala ia melihat Nenad yang bisa bermain dengan teman satu etnisnya.

Dengan membawa pistol rakitan, ia pun mulai mengajak Nenad juga ikut bermain di dekat lonceng gereja. Nenad yang menolak karena harus mencari imam gereja untuk pemakaman kakeknya akhirnya mengikuti permainan petak umpet itu. Hingga, Nenad kembali menolak dan Baskim pun mulai menembaki lonceng gereja. Nenad yang berlindung di dalam lonceng hanya bisa ketakutan. Malang, peluru yang dilontarkan Baskim malah mengenai kakinya.

Apapun etnis dan agamanya, bagi anak-anak bisa bermain bersama adalah kebahagiaan. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Saat ia ditanya oleh kakeknya, siapa dalang penembakan terhadap dirinya, Baskim malah menjawab anak Serbia itulah yang menembaknya. Segera, kemarahan orang-orang Albania meledak. Mereka mulai membakar bekas Gereja Ortodoks Timur dan menghancurkan segala hal yang berbau Serbia.

Nenad yang terperangkap di dalam lonceng gereja hanya bisa pasrah. Ia merasa, kematiannya akan datang menjemput seperti halnya yang terjadi pada kakeknya. Hingga akhirnya, ada seorang malaikat yang menyelamatkannya. Sosok tersebut adalah Baskim, teman Albanianya yang menyadari kesalahannya dan benar-benar menganggapnya sebagai sahabat terbaik yang pernah ia miliki.

Gambaran Konflik di Daerah Enklave

Hidup di daerah konflik dan merupakan enklave merupakan hal tak mudah. Film ini cukup apik menggambarkan kondisi itu. Gambaran ini terlukis pada beberapa adegan penting, semisal saat bus yang ditumpangi bibi Nenad, Milica (diperankan Anica Dobra) diserang saat menuju enklavenya.

Milica yang akan melihat ayahnya juga bertemu dengan rombongan pesta pernikahan orang-orang Albania yang melintas. Walau ada banyak darah yang mengalir di tubuh orang-orang Serbia dari Beograd tersebut, nyatanya mereka bak dua makhluk yang berlainan jenis. Tak ada interaksi. Tak ada pandangan mata dan tentunya tak ada komunikasi.

Rombongan pengantin Albania melintas di samping orang-orang Serbia yang baru saja diserang. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Begitu pula ketika imam Gereja Ortodoks Timur mengantarkan Baskim yang ia temukan tergeletak di tengah jalan ke rumah kakeknya. Gambaran konflik itu masih bisa terlukis saat sang imam dan sang kakek Baskim bertemu. Tak ada ucapan terima kasih, klarifikasi, bahkan sepatah katapun tak terucap dari kedua orang tersebut. Hanya pandangan mata yang penuh curiga yang begitu tampak.

Baskim terluka dan diantarkan imam Gereja Ortodoks Timur ke kakeknya. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Untunglah, film ini ditutup dengan apik. Saat Nenad mengungsi ke Beograd dan kembali sekolah, ia bahkan bercerita bahwa teman muslim Albanianya adalah teman terbaik. Ia juga tak marah ketika teman-teman Serbianya malah mengatainya sebagai anak Albania. Bagi Nenad, ia tak punya musuh. Semuanya adalah teman yang bisa ia ajak bermain.

Pereda Ketegangan Konflik Kosovo-Serbia


Kehadiran film Enklava ini juga menjadi salah satu poin dalam upaya damai konflik Sebia-Kosovo. Peristiwa rusuh 2004 yang menjadi ide dasar film ini menjadi bukti bahwa bibit kebencian bisa dimulai sejak dini. Peristiwa sekecil apapun bisa menyulut kemarahan besar. Termasuk, upaya Serbia yang mencoba membuka layanan kereta api ke Kosovo dengan gerbong kereta bertuliskan “Kosovo adalah bagian dari Serbia” pada 2017 lalu.

Upaya untuk memprovokasi semacam itu juga harus dihentikan. Konflik kedua etnis ini tidak semudah menukar wilayah enklave Serbia dengan enklave Albania. Adegan kakek Nenad yang begitu ingin dikuburkan di Kosovo, bukan di Serbia adalah bukti nyata itu. Meski ia adalah orang Serbia, namun Kosovo merupakan tanah kelahirannya dan Albania adalah saudaranya. Pesan inilah yang coba disampaikan walaupun berbeda etnis dan agama dengan latar belakang konflik yang panjang, bagaimanapun hidup berdampingan adalah hal terbaik.

Di Beograd, Serbia, Nenad malah diejek sebagai orang Albania. Sekolah harusnya juga menjadi dasar peredam bibit konflik SARA. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Gambaran kerugian akibat konflik yang tak kunjung selesai juga tergambar apik dalam film ini. Ketika rumah, tempat ibadah, dan fasilitas umum harus rusak menjadi bukti nyata itu. Bukti yang semakin miris ketika pendidikan seorang anak tak bisa berlangsung dengan baik. Saat Nenad tak bisa sekolah lagi lantaran sekolahnya ditutup untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

Pesan bagi Indonesia dan Dunia


Walau film ini dikritik lantaran lebih condong memihak orang Serbia, bukan berarti kisahnya tak bisa dijadikan hikmah. Sebagai negara multi etnis, Indonesia juga harus bisa banyak belajar. Kebencian antar etnis dan agama benar-benar mengerikan. Terusir, terbunuh, dan masa depan kelam menjadi gambaran yang bisa dipetik dalam film ini.

Tidak ada yang menang dalam sebuah konflik. Sumber : Enklava film./ Screenshoot pribadi
Begitu pula masyarakat internasional. Kasus penembakan di masjid New Zealand menjadi bukti nyata itu. Kebencian etnis dan agama tak mengenal pandang bulu termasuk di negara yang dianggap paling damai sekalipun. Meski berbeda, namun saudara yang berlainan SARA dengan kita tidak untuk kita musuhi. Bukankah Tuhan menciptakan kita berbeda agar kita saling mengenal?

***

Sumber:

(1) (2) (3) (4)

26 comments:

  1. Alur ceritanya hampir mirip dengan apa yang ada di ambon ya, konflik berbau sara. Sangat menyeramkan dan menakutkan.
    Kalau saya pernah menonton video pembantaian di bosnia, ngeri sekali.

    ReplyDelete
  2. Yerlepas dari sinopsisnya, aku tersepona ama nama nama pemainnya mas ikrom, khas eropa timur keren euy
    Agak agak berat ya klo film tentang konflik etnis dan agama huhu
    Tokoh baskim ini baiang keladinya ya, padahal masi anak anak, jadi bikin kericuhan huhu

    Salut referensi film dirimu mas ikrom, sa ae loh myangkutin ke topik yang lagi hangat yakni tentang masalah di NZ

    ReplyDelete
  3. pesannya setuju bgt mas, kadang suka ngeri dimana2 adanya penebar kebencian, adu domba.. huhu

    ReplyDelete
  4. Film menarik buat ditonton...thanks udah dapat clue duluan..

    ReplyDelete
  5. fotonya bikin jadi inget masa-masa kecil mandi di sungai bareng sama teman-teman, bercanda dan bergembira, sesuatu yang ku rindukan :D

    ReplyDelete
  6. Layak ditonton nih...apalagi masyarakat sekarang mudah terprovokasi hal hal yang berbau SARA

    ReplyDelete
  7. sepertinya sangat menyentuh banget untuk di tonton filmnya

    ReplyDelete
  8. Menggembirakan untuk anak2...Tetapi ada rasa cemas juga ..Artinya apapun itu tetap harus punya sifat positif meski daerah itu penuh konflik..😄😄

    ReplyDelete
  9. sebagai sesama manusia kita ngak boleh bermusuhan, karena bermusuhan itu akan membuat Iblis tertawa penuh kemenangan.

    ReplyDelete
  10. Pesan moralnya bagus banget sih ini

    Tapi storynya terlalu berat untuk anak sereceh aquuh

    ReplyDelete
  11. Menarik untuk ditonton... banyak pelajaran pelajaran penting sepertinya.

    ReplyDelete
  12. Pesan moral yg tercantum di film ini yg bisa menggerakkan hati orang2 yg seperti di alur cerita film ini

    ReplyDelete
  13. Gak tega kalau tokohnya anak2 dan konfliknya multi etnis :')

    ReplyDelete
  14. bagus sekali ini filmya. Sedih banget melihat anak yang menjadi korban :(

    ReplyDelete
  15. Kalo nonton film dgn latar belakang konflik antar negara dsb udahnya ku suka jadi baper hiks. Apalagi kalo kisah nyata

    ReplyDelete
  16. setting latarnya bagus ya walau klo film perang bikin sedih

    ReplyDelete
  17. Film dengan latar belakang budaya ya. Terlepas dari alur cerita yang mungkin berpihak ke 1 negara, ya setidaknya pesannya sampai. Negara silakan berkonflik, rakyatnya jangan, hehe...

    ReplyDelete
  18. Lihat dari reviewnya sepertinya ini film yang sangat menarik aku tonton. Aku save judulnya untuk ditonton

    ReplyDelete
  19. Mantap reviewnya, jadi penasaran ak pengen nonton.

    Wah iya tu pasti banyak pesan dalam filmnya. Tentang konflik gini biasanya sangat erat dengan di tempat kita 😂

    ReplyDelete
  20. pada akhirnya kita harusnya bersyukur, di Indonesia memang ada beberapa wilayah yang konflik tapi mayoritas bisa hidup tenang, bisa beragama dengan baik. Semoga ga ada perpecahan seperti di wilayah konflik lainnya

    ReplyDelete
  21. setuju, memihak salah satu pihak emang tak terelakkan

    yang penting adalah pesan dan hikmah yang bisa diambil

    ReplyDelete
  22. Ini termasuk film thriller ya mas .. walaupun disemati kisah tragis & mengharukan. Keren sinopsisnya 👍👍

    ReplyDelete
  23. Film-film semacam ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita bahwa hidup berdampingan antar etnis tidak mudah. Indonesia sudah membuktikan kalau bisa. Semoga selalu terjaga...aamiin...

    ReplyDelete
  24. Huuuft.....baca review-nya aja udah menegangkan. Btw, setuju. Anak2 memang taunya main, nggak peduli sama agama dan etnis. Orang2 dewasalah yg sering menaburkan bibit kebencian :(

    ReplyDelete
  25. Wah rekom juga nih untuk ditonton.
    Makasih infonya mas

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.